6 bulan sudah kita merenggang. Aku sudah pergi total. Tak ada yang
ingin dikenang dari semua ini. Saling sindir di status sampai aku pernah
jahat dan membuatmu muak. Kau tahu? Di sini aku tak tega. Seperti ada
sisi lain yang dikendalikan oleh kekuatan yang tak bisa kukendalikan.
Semacam bisikan agar aku tega melakukan ini semua. Kekuatan itu
menyuruhku agar kau tertindas. Sesekali aku sangat puas dan sebaliknya
aku pernah menyesal. Jika dipikir dengan logika, aku melakukan
kebenaran. Apa harus berdiam diri? Sebatang lilin tak akan menyala jika
tak pernah tersambar percikan api dari korek kayu.
Ketahuilah! Semua tindakan yang kuanggap benar telah kulakukan! Aku mengganti nomer handphone
terlalu sering hingga aku sempat pula dimaki teman-temanku. Kau tahu?
Itu demi agar aku tak pernah tahu lagi tentangmu. Sempat pula aku pernah
bermimpi memblokirmu. Kurasa aku masih punya hati. Maka tak kulakukan
untuk yang ke-dua kalinya.
Perseteruan masih terjadi. Kita masih sering saling menyindir di facebook. Kau
pernah mengomentari statusku dan kuserang dengan kata-kataku yang
menyakitkan. Kau tersudut, lalu diam dan menghapus komentarmu satu per
satu. Aku seperti berbicara sendiri. Kau pernah meminta agar kita
menyelesaikan ini dengan damai. Tapi itu cara bodoh yang sering kau
lakukan. Hanya mengucapkan kata maaf saja yang semua orang
mampu melakukannya. Jika itu memang diperbolehkan penggunaanya, aku akan
sering menampar pipi temanku. Setelah itu akan kukatakan maaf. Tentu saja masalah akan beres menurutku walau temanku mungkin akan pergi ke tukang santet untuk membunuhku.
Kau
selalu mengatakan ini kesalahpahaman semata. Antara salah paham dan
kenyataan sudah bisa dibedakan di usiaku yang semakin renta ini. Sikapmu
selalu keras padahal aku ingin kau menyadari apa yang harus kau lakukan
agar aku bisa tenang. Ingatlah! Kau harus bisa keluar dari labirin yang
telah kau buat. Yang kuminta darimu adalah, cobalah akui apa yang
pernah terjadi dahulu daripada kau terus bercerita di teman-temanmu dan
teman-temanku bahwa aku salah paham atas sikapmu selama ini. Jangan
sakiti dirimu nona manis! Aku masih menyimpan bukti-bukti itu!
Memutarbalikkan fakta dan membuat alibi, tentu akan menjelekkan dirimu
sendiri secara tidak langsung. Katakan saja, "Maaf aku dulu memang ada sedikit rasa. Tapi rasa itu telah hilang", atau kata-kata yang bermakna sama dengan itu, dari pada kau menjawab dengan lantang kebodohanmu saat kutanya "Apa maksud lagu yang kau berikan dan tulisan indahmu yang mesra itu?". Lalu kau jawab dengan tenang, "Itu kan cuma tulisan. Hapus saja lagunya. Gampangkan? Aku sudah didekati lelaki lain".
Sungguh setelah mendengar kata-kata itu dari mulutmu, aku seperti
bermimpi. Enteng sekali nada bicaramu setelah aku memberi celah untuk
akrab lagi denganku, setelah kau menghancurkanku saat aku meminta
kejelasan dulu dan kau hanya meyakinkanku tak pernah terjadi apa-apa.
Lalu kutahu sendiri kalian telah berpacaran. Jujur! Lemari di kamar
temanku hampir patah kutinju! Kenapa aku tahu sendiri? Sandiwara yang
rapi. Kuinginkan kejelasan sepahit apapun itu. Karena walaupun pahit,
itu adalah cahaya terang untukku melangkah dan dengan berat hati aku
akan bisa mengikhlaskanmu.
Kalian berpacaran. Aku
kehilangan sosok yang kudamba, yang kini dimiliki yang lain. Tapi jujur!
Aku selalu mendo'akanmu agar kau terjaga di setiap harimu meski kau
telah mencampakkanku. Aku bukan siapa-siapa lagi. Kutahu kau adalah
wanita yang baik-baik. Kau harus dapatkan pilihan yang baik juga. Maka
tak salah jika aku masih sedikit peduli meski hanya memberi
nasehat-nasehat tak pernah kau gubris. Aku sempat berpikir bahwa kau
telah nyaman dengan orang yang kau anggap dewasa. Ternyata kata-kataku
benar di penghujung kisahmu. SUMPAH! AKU MENANGIS KESAKITAN! KENAPA KAU
MEMBERITAHUKU SEMUANYA? Itu tak pantas kau terima. Kau wanita yang baik
(solehah dan taat). Aku kecewa meski nyatanya aku tetap memberimu
kenyamanan. Aku menghargaimu karena telah berani mengguncangku. Pesan
itu kutulis dengan penuh AIR MATA dan nyatanya apa yang kukhawatirkan
benar-benar terjadi. (Maaf aku bercerita mundur). Aku sudah melakukan
yang terbaik. Aku menyuruhmu menghindar dan jangan kau masuk ke hidupku
lagi. Kali ini hargai keputusanku seperti yang kau tahu perasaanku
terhadapmu sampai sekarang masih tetap sama. Jauhi aku dari pada terus
begini. Yakinlah kepergianku tak berarti benci! Kau mengirimiku pesan, "Don't say Goodbye".
Aku bingung dengan keadaan ini. Aku menyayangi orang yang terus
menyakitiku. Aku akan meminta hal yang sama lagi jika waktu itu akan ada
untukku. Aku akan memintamu menjadi pendampingku jika itu memang ada
nanti. Untuk sekarang ini, biarlah begini dulu.
Liburan
semester ini, kuputuskan pulang. Tahun depan aku akan KKN-PPL. Itu
bertepatan dengan bulan puasa. Maka kupastikan aku tak akan pulang
lebaran tahun depan. Aku menulis status tentang kepulanganku di facebook. Kau sering menelponku setelah tahu nomer baruku. Kita sudah mulai berani melakukan chatting. Beberapa
hari mendekati kepulanganku. Kau bersemangat rupanya dengan
kepulanganku. Kita sudah berjanji akan bertemu. Aku di sana nanti 3
minggu lamanya.
Singkatnya, aku sampai di Lombok. Aku tak
langsung ingin bertemu denganmu. Kau pernah bilang kau sedang sibuk
praktik. Minggu depan selesai. Tak apa. aku masih ada sisa 3 minggu
menurut prediksiku. AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH.. Kenyataan berbicara
lain. Hari senin aku harus di Jogja lagi karena ada urusan mendadak.
Maka kuminta di hari terakhirku itu kita harus bertemu. Kau tak
menyanggupinya karena malam itu kau praktik di Puskesmas yang jauh dari
rumahku. Kuputuskan akan menginap di Mataram demi untuk melihat wajahmu.
Ini sebenarnya ini bukan mauku karena aku sadar aku hanyalah seorang
peganggu di hidupmu. Ini karena desakan temanku agar aku harus
menemuimu.
Sesampai di depan puskesmas, napasku tak
teratur. Sebentar lagi sosok yang kudamba itu akan keluar. Akhirnya
kulihat sosokmu yang mendekatiku. Subhanallah! Inikah dirimu? Kau
cantik!
Temanku meninggalkanku mungkin agar aku bisa
berbicara panjang lebar di sana. Wajahnya panik tak berani berduaan.
Lagi pula itu di puskesmas. Apa tanggapan orang yang melihat nanti?
Sesekali dia dipanggil temannya dari dalam puskesmas. Mungkin dia akan
mulai bekerja. Akhirnya aku bisa mengambil titik lengahmu. Aku meminjam handphone-nya untuk menelpon temanku karena handphone-ku lowbat. Maka aku menjauh dan sedikit mengutak-atik inbox-mu.
Di sana aku menemukan obrolanmu dengan orang yang paling kubenci walau
kalian sudah tak berpacaran lagi seperti apa yang pernah kuminta dulu, "Tinggalkan lelaki brengsek itu! Masih banyak lelaki yang lain meski bukan aku!".
Dia mengajakmu keluar makan malam tapi kau menyanggupinya setelah kau
selesaikan praktikmu kan? Begitu mudahnya itu kau lakukan bersamanya.
Sedangkan dulu aku meminta untuk bertemu saja sulitnya minta ampun.
Aku mengembalikan handphone-mu.
Dan sepertinya kau memang benar-benar dipanggil ke dalam untuk memulai
praktikmu. Aku relakan pertemuan singkat ini. Kau dingin sekali.
Bicaramu sedikit dan seperlunya. Aku sabar.
"Ini aku bawa makanan. Ambillah!", aku pamit pulang dengan berat hati.
Sepulangnya
dari puskesmas, hujan lebat sekali. Aku basah kuyup dan kedinginan. Aku
berteduh di pos POLISI (aparat yang paling kubenci). Aku tak percaya
aku punya kenangan tentang hujan dan kenngan di POSKO BRIPTU
BREEEEEEEEENGSEK!
Sesampai di kontrakan temanku, aku hanya mendapat pesan darimu, "Makasih makanannya ya?". Maka kubalas pesannya, "Semoga bisa menemanimu sampai larut malam nanti". Ini sms terakhirmu. Bahkan di hari kepulanganku, pesan yang kuharap akan singgah di inbox-ku
tak jua ada. Yang kuinginkan adalah ucapan selamat jalan darimu yang
mungkin bisa mendamaikanku walau itu hanya sesaat saja. Teganya dirimu!
Sampai detik ini, pesanku tak pernah kau balas. Lalu aku mengingat
kata-katamu tentang lelaki yang akan mengutarakan cintanya untukmu
setelah praktekmu selesai. Kuintip status terbarumu, dan ternyata itu
semakin akan menjadi nyata. Aku mengalah! Aku akan pergi dari hidupmu!
Hargai aku! Kuhargai kenyamananmu selama ini yang tak pernah mampu
menjauh! Apa aku harus berkorban semuanya untuk terus menjaga hatiku?
Dengarlah aku mungkin untuk yang terakhir kalinya! Aku ingin memilikimu!
Aku mencintaimu atas kecintaanku kepada Allah SWT! Aku hanya ingin
melindungimu! Tak pernah tega jika kau disentuh dan disakiti! Aku lelah
menjaga hati ini! Semoga kau dapatkan seorang yang lebih menyayangimu
daripada aku! Aku kan bahagia nanti jika kau menemukan itu walau itu
bukan aku! Sekali lagi perhatikan tulisanku! AKU PERGI TAK BERARTI
BENCI! AKU TAK KUAT TERUS MENJAGA HATI! Aku pergi! Aku berharap kau
adalah takdirku nanti! Aku ingin kau merasakan kesakitan ini di saat
ulang tahunmu nanti! Terimalah pemberianku nanti!
2/14/2012
Langganan:
Komentar (Atom)
