SIANG INI
Kabar itu menandakan sesuatu yang mungkin terpuruk dengan kelihaian sesuatu pada sesuatu. Namun setidaknya semua berakhir dengan tawa. Tahu akan sesuatu berarti mengerti apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dilakukan.
Hanya pesan yang akhirnya akan tiba pada waktunya, tiba pada saat seseorang berulah menjadi berubah
pada hal yang positif. Hal itu dapat menjadi sebuah rahasia yang patut dipertanyakan, apa salahnya kita menyalahi aturan, apa salahnya kita melanggar aturan apabila toh dilanggar pun tidak akan menjadi dosa.
Ayolah kawan, yang kini aku punya hanyalah nyali untuk berbicara di depan umum atau paling tidak di depan warga Indonesia.
Kalau pun belum punya nyali seperti itu, ayolah rubah sikap. Bukankah itu yang diinginkan setiap orang. Ketika melihat air mengalir jernih. Dan bukankah setiap beban bisa menimbulkan stres atau mungkin bunuh diri. Namun ayolah kita jujur, setiap kali melihat hal yang dirasakan, rasakan saja sampai detik akhir penyesalan itu habis pada hidupmu.
Teringat saat aku pergi ke Bandung, berangkat jam 6 pagi. Aku dan dirinya bertemu di sebuah tempat untuk menunggu bus pagi hari itu. Tapi ternyata bus datang jam 7. Bus ekonomi Garuda Pribumi mengangkut kami, dengan banyak ngetem dimana- mana, saat ngetem itulah para jajakan penjual asongan dan pengamen datang menaikki bus yang kami tumpangi. Biarkan nyanyian para pengamen itu membuat kepalaku semakin berat. Semakin berat saat aku menemukan kebohongan pada dirinya, Ai. Saat ai menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi kini matahari membuat ulah, hingga mendung menghujah butiran air mata duka. Duka yang aku pendam agar tetesan pilu ini tak terjatuh tepat pada saat kesakitan menyergapku. Biarkanlah pilu ini menjadi duka menggelayut di tepi mata terbencit.
Kepalaku semakin berat, berakhir dengan tanda maaf sakralnya cium tangan. Aku menjatuhkan air mata. Entah itu tanda haru, sedih, senang atau apa pun. Aku pun tak mengerti tangisan itu.
Semua berjalan dengan menyusuri magisnya hidup. Bercinta dengan sesaknya lautan angin yang tak terhembuskan. Bisikan angin yang tak karuan.
Sumpah, aku sedih melihat anak kecil yang dibawa untuk meminta- minta siang ini. Bukankah anak yang masih berusia seperti itu masih harus merasakan indahnya hidup. Bukan untuk merasakan kerasnya hidup. Aku ingin cepat dewasa, mempunyai pekerjaan yang gajinya minimal sepuluh juta per bulan agar aku bisa mengasuh mereka. Bisa membahagiakan mereka. Aku ingin seperti itu.
Tuhan, beri aku kesempatan untuk masih bisa membahagiakan orang- orang yang patut aku bahagiakan. Beri aku kesempatan untuk menjadi dewasa ini.
Aku tak pernah bermaksud untuk meninggikan hati. Tapi hanya itu yang aku inginkan. Berbagi bahagia dengan mereka yang patut dibahagiakan. Aku selalu ingin bersama anak- anak tanpa dosa agar aku menjadi dewasa yang berarti. Bermasyarakat dengan cinta. Berawal dengan cinta dan berakhir dengan cinta. Hanya kata cinta yang bisa menghidupkanku untuk menjadi utuh dalam hidup. Hanya cinta yang bisa membuatku untuk tetap kuat akan kerasnya hidup. Lembutkan hidup dengan cinta. Tak akan ada cinta yang nyaris tenggelam. Cinta akan tumbuh setiap saat, tumbuh setiap waktu mengalun mengarungi magisnya hidup.
Makasih sayang dah ngajak ai seneng2 lagi makasi bwt semuanya maaf ai g bisa ngasi apa2 buat neng
Iya gapapa sayang...
Kabar itu menandakan sesuatu yang mungkin terpuruk dengan kelihaian sesuatu pada sesuatu. Namun setidaknya semua berakhir dengan tawa. Tahu akan sesuatu berarti mengerti apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dilakukan.
Hanya pesan yang akhirnya akan tiba pada waktunya, tiba pada saat seseorang berulah menjadi berubah
pada hal yang positif. Hal itu dapat menjadi sebuah rahasia yang patut dipertanyakan, apa salahnya kita menyalahi aturan, apa salahnya kita melanggar aturan apabila toh dilanggar pun tidak akan menjadi dosa.
Ayolah kawan, yang kini aku punya hanyalah nyali untuk berbicara di depan umum atau paling tidak di depan warga Indonesia.
Kalau pun belum punya nyali seperti itu, ayolah rubah sikap. Bukankah itu yang diinginkan setiap orang. Ketika melihat air mengalir jernih. Dan bukankah setiap beban bisa menimbulkan stres atau mungkin bunuh diri. Namun ayolah kita jujur, setiap kali melihat hal yang dirasakan, rasakan saja sampai detik akhir penyesalan itu habis pada hidupmu.
Teringat saat aku pergi ke Bandung, berangkat jam 6 pagi. Aku dan dirinya bertemu di sebuah tempat untuk menunggu bus pagi hari itu. Tapi ternyata bus datang jam 7. Bus ekonomi Garuda Pribumi mengangkut kami, dengan banyak ngetem dimana- mana, saat ngetem itulah para jajakan penjual asongan dan pengamen datang menaikki bus yang kami tumpangi. Biarkan nyanyian para pengamen itu membuat kepalaku semakin berat. Semakin berat saat aku menemukan kebohongan pada dirinya, Ai. Saat ai menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi kini matahari membuat ulah, hingga mendung menghujah butiran air mata duka. Duka yang aku pendam agar tetesan pilu ini tak terjatuh tepat pada saat kesakitan menyergapku. Biarkanlah pilu ini menjadi duka menggelayut di tepi mata terbencit.
Kepalaku semakin berat, berakhir dengan tanda maaf sakralnya cium tangan. Aku menjatuhkan air mata. Entah itu tanda haru, sedih, senang atau apa pun. Aku pun tak mengerti tangisan itu.
Semua berjalan dengan menyusuri magisnya hidup. Bercinta dengan sesaknya lautan angin yang tak terhembuskan. Bisikan angin yang tak karuan.
Sumpah, aku sedih melihat anak kecil yang dibawa untuk meminta- minta siang ini. Bukankah anak yang masih berusia seperti itu masih harus merasakan indahnya hidup. Bukan untuk merasakan kerasnya hidup. Aku ingin cepat dewasa, mempunyai pekerjaan yang gajinya minimal sepuluh juta per bulan agar aku bisa mengasuh mereka. Bisa membahagiakan mereka. Aku ingin seperti itu.
Tuhan, beri aku kesempatan untuk masih bisa membahagiakan orang- orang yang patut aku bahagiakan. Beri aku kesempatan untuk menjadi dewasa ini.
Aku tak pernah bermaksud untuk meninggikan hati. Tapi hanya itu yang aku inginkan. Berbagi bahagia dengan mereka yang patut dibahagiakan. Aku selalu ingin bersama anak- anak tanpa dosa agar aku menjadi dewasa yang berarti. Bermasyarakat dengan cinta. Berawal dengan cinta dan berakhir dengan cinta. Hanya kata cinta yang bisa menghidupkanku untuk menjadi utuh dalam hidup. Hanya cinta yang bisa membuatku untuk tetap kuat akan kerasnya hidup. Lembutkan hidup dengan cinta. Tak akan ada cinta yang nyaris tenggelam. Cinta akan tumbuh setiap saat, tumbuh setiap waktu mengalun mengarungi magisnya hidup.
Makasih sayang dah ngajak ai seneng2 lagi makasi bwt semuanya maaf ai g bisa ngasi apa2 buat neng
Iya gapapa sayang...
by Anis Jatisunda on Friday, January 20, 2012 at 8:29pm

0 comments:
Posting Komentar