skip to main | skip to sidebar

Our Notes are Our Life

Yesterday is our story to learned by us

  • Information System
  • C00l_robi
  • Home
  • Gold words
  • Download

12/12/2011

Akhir Ranah Kebimbanganku

posted by Robiandika Sayank Ipa5 at 19.28 Labels: Lampiasan
Aku ingin bercerita kawan….
Maafkan aku jika kalian sedikit terganggu. Tapi kepada siapa aku melepas bebabanku? Baiklah. Akan kuceritakan sedikit goresan kisahku.

Berawal dari pertemuan kita kira-kira 3 tahun lalu. Saat pertama berjumpa hingga kita sangat akrab. Komunikasi yang biasa-biasa saja hanya melalui sms dan telpon. Tanpa pernah berkomunikasi yang wajar layaknya orang-orang yang saling menatap mata. Hanya saling tertunduk lesu jika berpapasan saat berjalan kecil menuju kelas masing-masing pada pergantian jam pelajaran. Kemudian membicarakannya lagi melalui sms saat di rumah nanti. “kok tadi nggak manggil-manggil?”. Aku menjawab,
“malu”. Begitu selalu. Hanya bercerita kecil melalui sms. Tak ada perubahan sampai beberapa bulan ke depan.

Sampai akhirnya aku naik ke kelas 3 SMA. Teringat diri yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah menuju jenjang yang lebih tinggi yaitu “kuliah”. Ternyata aku merasa, aku mencintaimu. Kau mulai menyuruhku agar menjumpaimu. Aku memberanikan diri dengan agak gemetar menuju kosmu. Waktu itu malam hari: kali pertama kita berkomunikasi dengan cara yang sebenarnya. Aku bahagia walau cara-cara bodoh kita terus terulang: saling tertunduk malu. Sebenarnya yang pemalu itu adalah kau. Hanya saja aku tak tega menatap matamu lebih lama karena sifatmu itu pasti akan kau ulangi terus-menerus. Tapi aku menikmatinya.

Saat acara sekolah entah apa pun itu, kau selalu menyuruhku agar aku menyanyikan lagu kesukaanmu itu untukmu. Aku selalu menyanggupinya. Kau pun senang dan berkata, “bener ya?”. Tapi nyatanya aku selalu mengurungkannya.

Singkatnya, sisa waktuku di SMA itu semakin berkurang. Aku harus katakan bahwa aku mencintainya. Tentu itu tidak mudah kulakukan karena sejak awal kedekatan kita dulu kau pernah katakan, “Kata mama aku nggak boleh pacaran. Aku masih kecil”. Aku maklumi itu. Tapi setidaknya kau harus mengetahui perasaanku itu kan? Hingga akhirnya aku mengulur-ulur niatku untuk mengatakannya segera.

Sekarang waktuku semakin akan hampir habis. Aku terpaksa melakukannya. Akhirnya aku katakan sebenarnya mengenai perasaanku bahwa aku sangat mencintainya. Responnya saat itu adalah, “aku tak ingin mengulangi kisahku”. Dulu dia pernah dicintai kakak kelasku yang kemudian kuliah ke Jawa. Lalu lelaki itu sekarang mengabaikannya bahkan tak pernah mengurusnya dan bahkan tak pernah mengabarinya. Kemudian hanya muncul mengucapkan “selamat ulang tahun” saat hari ulang tahunnya. Dia tak ingin kisah itu terulang lagi. Aku sangat mengerti itu.

Dan sampailah saat detik-detik terakhir tiba. Saat itu acara perpisahan kelas 3. Aku ingin melihatnya mungkin yang terakhir kalinya ketika nanti dia akan memilih lelaki lain dalam hidupnya. Aku memintanya datang menemuiku saat-saat hari berkesan itu. Akhirnya dia datang juga. Aku melihatnya dari atas panggung saat aku dan teman-teman (Joe, Eko, Ryan, dan Faruk) memainkan lagu miliknya KRISPATIH-Bila Rasaku Ini Rasamu. Aku sedikit lega.

Singkatnya, acara perpisahan sudah berada dipenghujung acara. Kami membentuk lingkaran besar, kemudian saling berjabat satu sama lain. Kira-kira di sepertiga putaran, aku bertemu dengannya dan mengulurkan tanganku. Aku menangis. Aku mencium tangannya hingga mungkin tangannya basah kuyup dengan air mataku. Dia berkata, “kakak jangan cengeng ya?”. Lalu aku mengangguk pelan.

Beberapa hari kemudian setelah acara perpisahan itu, aku tak sempat bertemu dengannya. Singkatnya, aku telah berada di Jogja. Di sana aku terus merindukannya. Aku mengulangi apa yang pernah kulakukan sebelumnya: mengatakan bahwa aku mencintainya. Jawaban klasik selalu diucapkan, “aku tak mau lagi kisah itu terulang”. Akhirnya aku bosan dengan jawaban itu hingga aku mulai mengabaikan pesan-pesan singkatnya dan bahkan tak mau mengangkat telponnya. Aku menyuruh temanku, Amri dan Arif, jika dia menelpon katakan saja aku tak ada, aku pergi, dan meninggalkan handphone-ku. Tak lama kemudian handphone-ku berbunyi lalu diangkatnya oleh mereka. Mereka mengatakan kalau aku sedang di Masjid belum pulang sholat. Padahal aku di dekat mereka. Wanita itu tak percaya dan katanya dia ingin bicara denganku. Akhirnya telpon itu aku raih dan bicara padanya. Dia mengucap kata maaf. Aku mendesaknya lagi. Kali ini jawabannya berbeda. Dia ingin fokus dengan Ujian Nasional. Aku membalasnya, “bagaimana kalau setelah Ujian Nasional? Aku akan menunggu waktu itu dengan senang hati”. Dia terdiam sejenak dan berkata, “ya”. Jantungku berdebar tak berirama.

Komunikasi kecil-kecilan terus terjadi sebelum tibanya hari yang kunanti. Namun komunikasi mulai memudar seiring semakin dekatnya hari itu. Akhirnya hari itu tiba namun aku tak menagihnya secepat itu. Kira-kira saat dia hampir memasuki semester 2, aku mulai mengungkit itu. Jawabannya berbeda, dia belum siap. Dia ingin biarkan waktu berjalan apa adanya. Aku kebingungan. Tapi aku tetap tak memutuskan komunikasi dengannya walaupun aku sering melihat status fb-nya yang selalu membicarakan pria yang dipujanya, dan membaca catatannya tentang pria yang meninggalkannya dan mengabaikannya. Aku semakin galau dengan keadaan ini. Aku berpikir, apakah dia begini karena aku jauh dan tak pernah berkomunikasi dengannya langsung? Ataukah ada lelaki yang se-kampus dengannya yang kemudian memberikan perhatian lebih padanya? Sedangkan aku, tak mampu berbuat apa pun kepadanya yang sedang berada di seberang sana. Tapi aku tak menyerah sedikit pun karena dia masih sering menghubungiku entah itu melalui pesan singkat atau telpon. Dia sering memintaku memainkannya lagu kemudian aku lakukan dengan senang hati. Aku tau lagu kesukaannya “Romance De Amour”: soundtrack film Endless Love. Kadang juga dia meminta lagu selain itu. Aku kabulkan dengan senang hati. Aku semakin berharap padanya dengan keaadan saat itu. Apalagi di saat aku mulai merayunya, dia paling sering membalasnya dengan lagu yang penggalannya seperti ini, Buktikanlah kau cinta padaku. Buat aku tergila-gila padamu. Jangan dulu kau lelah menunggu. Kuingin kesungguhanmu untuk bilang I Love You. Dan lagu yang ini, No no no tunggu dulu. Cinta jangan buru-buru. Karena kurasa terlalu cepat. Kutakut semua itu palsu.

Aku semakin letih. Bukankah aku telah mengatakan berkali-kali bahwa aku mencintainya? Lalu dengan apa aku meyakinkannya? Sungguh wanita ini luar biasa. Pada intinya dia tak pernah menerima cintaku.
Bertahun-tahun berlalu, aku muak. Aku putuskan bahwa aku lelah dengan perasaanku ini. Tolong jangan buat aku gila! Aku menelponnya. Aku katakan jawablah apa adanya. Apa yang kau inginkan dariku? Jawabannya, “Tidak! Kita masih kecil belum waktunya pacaran. Kita masih main-main. Aku menganggapmu tak lebih hanya seorang kakak!”. Pandanganku sejenak gelap. Aku pasrah. Aku lelah tak kuasa berbuat apa lagi. Aku serahkan kepada Tuhan. Aku putuskan tak terlalu mengurusnya lagi. Namun nyatanya dia mengirimiku pesan. Aku balas saja sewajarnya. Jangan salahkan aku. Kita hanya sebatas teman.

*********************

Singkat cerita, kira-kira seminggu sebelum ramadhan, aku pulang. Aku membohonginya kalau aku sudah berada dekat rumahnya. Aku ingin bertemu. Dia menjawab, tak bisa. Malu sama Paman Bibi. Lalu aku meminta malam harinya juga tak bisa, katanya akan pergi. Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku memintanya datang di hari ulang tahun SMA. “Insya Allah”, katanya.
Beberapa hari sebelum Ultah sekolah, tiba-tiba status fb-nya muncul “Tak ada lagi yang memainkan lagu Endless Love untukku. Andai kamu adalah aku, baru kamu tahu perasaanku”. Dan catatan anehnya yang menyindirku.. Akhirnya aku berpikir dengan kehadiranku dalam hidupnya, dia terbebani. Aku memblokir pertemanan dengannya. Aku bersalah padamu.

Sehari sebelum Ultah Sekolah, dia menelponku sambil menangis. Dia tak bisa datang karena sebuah kecelakaan. Kali ini dia benar. Dia berusaha datang namun kehendak Tuhan lain. Aku bersedih. Apalagi aku telah memblokir pertemananku dengannya. Aku menyesal. Aku bersedih. Dia marah besar padaku. Aku meminta maaf. Itu kulakukan agar aku tak sakit hati lagi dengan status-status aneh. Dia tak lagi membenciku walaupun sebenarnya dia sangat kecewa denganku.

2 April 2011….
Dia mengajakku bertemu. Ini kesempatan untuk aku bicara secara nyata di depannya. Sesampai di sana, tak seperti harapanku. Dengan kedatangan teman-temannya, aku bungkam dan membisu. Kira-kira 30 menit di sana bicara seadanya, aku minta pamit pulang. Dia mengirim sms padaku, “Kita sudah ketemu kan? Lega!”. Ternyata dia menganggap pertemuan itu tak penting sedikitpun. Aku kecewa dan sangat sedih. Tiba-tiba dia mengirim pesan agar kami bertemu lagi dan aku harus memainkannya sebuah lagu. Mungkin lagu yang sangat disukainya. Aku sangat bahagia dan berharap.

9 April 2011…..
Sehari sebelum kepulanganku ke Jogja, jadi aku harus bertemu. Dan Alhamdulillah dia menyanggupi. Jam 4.45 sore, dia datang menemuiku yang sedang bermain band. Aku mengajaknya keliling melihat bagunan-bangunan baru sekolah. Ini tak pernah kulakukan sebelumnya, berjalan berdua sambil berbincang. Tibalah pada sebuah kolam yang disebut para siswa “Kolam Cinta”. Tibalah pada sebuah introgasi kecil-kecilan. Aku menatap matanya tajam. Dia risih dan menyuruhku jangan menatapnya seperti itu. Di sana aku bicara apa adanya tentang perasaanku yang membingungkanku selama ini. Aku bertanya tentang status dan catatannya. Dia berbohong. Aku terus mendesak dan dia mengaku bahwa diabetul-betul bohong. Karena aku sudah yakin yang dimaksud adalah aku. Siapa lagi pria lain yang memainkan lagu itu padamu? Tak mungkin ada selain aku. Itu alasan kenapa aku me-remove-nya. Aku merasa bersalah membebani hidupmu. Kemudian sampailah kepada pertanyaan sakralku.

“Tujuan kepulanganku adalah sebenarnya ingin bertemu denganmu. Aku sudah lelah. Aku masih mencintaimu. Jawablah! Aku butuh! Apa pun yang terjadi, itu yang aku bawa pulang nanti”.
Dia menjawab, “aku hanya belum ingin terlalu serius. Aku tak ingin ada hati yang tersakiti”.
Aku membalas lagi, “Lalu kenapa kau tak mencintai lelaki satu pun sekarang ini?”.
Dia menjawab, “Belum ada yang cocok”.
Jawabku, “Berarti aku bukan orang yang cocok untukmu?”.
Jawabnya, “asal kakak tahu bukan hanya kakak yang merasa seperti ini”.
Jawabku dengan nada sedih dan mataku mulai memerah, ”mungkin dengan kamu punya pacar, aku sedikit lega. Aku tahu apa yang harus aku perbuat. Aku berdoa semoga kamu mendapatkan lelaki yang terbaik!”
Jawabnya juga dengan mata yang hampir menangis, “Amin! Maaf kak aku tetap tak bisa menerimamu! Aku boleh pulang ya?”.

Aku tak bergeming sedikit pun. Aku mengabulkan permintaannya untuk pulang. Bagaimana kalau dia menangis nanti? Dia menjabat tanganku. Lalu aku tarik dan aku genggam erat-erat. Aku ingin menangis. Aku tak kuasa bila harus kehilangannya. Perjuangan cintaku yang teramat dalam yang tak bisa kugambarkan padanya ternyata berujung pilu. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kira-kira lebih 10 detik aku menggenggam erat tangannya. Kedua mata kami sama-sama memerah. Dengan nada lembut dia mengucap kata terakhirnya padaku, ”Kak jangan marah ya? Maafkan aku! Baik-baik di Jogja ya? Lupakan aku cari wanita lain!”. Aku terdiam tak melepas tangannya. Aku akhirnya melepasnya dan dia mengucapkan salam lalu pergi dengan motornya.

Aku hancur. Aku tak berarti lagi di depannya. Apa maksudnya mempermainkanku selama ini? Aku menangis di dekat pintu ruang band. Kenapa tidak dari dulu kita bisa bertemu agar tidak tepat di hari menjelang kepulanganku ini, aku hancur lebur. Indra membujukku agar bisa bersabar. Aku mengiriminya pesan, Aku hancur. Baru kali aku menangis karena wanita. Perjuanganku begitu besar padamu. Apa maksud Tuhan mempertemukan kita 3 tahun lalu? Dia tak membalasku.

Malam harinya aku menangis sejadi-jadinya. Dia mengirimiku pesan berisi maaf. Aku balas saja karena tak ada yang perlu disalahkan. Ini masalah perasaan. Dia memintaku agar jangan meninggalkannya. Perasaanku yang begitu besar dan perasaannya yang tak menginginkanku dan tak ingin aku meninggalkannya. Sulit sekali belajar tentang perasaan! Apa yang aku perbuat dengan pilihan itu? Aku menjawabnya dengan senyuman. Akhirnya kami berhubungan baik dan aku sudah bisa terima keputusannya. Tak ada lagi yang perlu kami sembunyikan. Aku menelponnya hingga tengah malam sambil berlinang air mata. Aku mulai bertanya secara dalam lalu dia akhirnya mengaku didekati oleh pria yang sebut saja namanya Noorman. Dia pria yang sudah mapan dan tentu lebih tua daripadanya. Sedangkan aku katanya sebaya dengannya makanya aku bukan kriteria. Dari sini aku bisa temukan jawaban Tuhan tentang keinginan seorang wanita yang ingin hidupnya bahagia nanti dengan suami yang bisa memimpinnya karena lebih tua darinya. Aku menangis mendengarnya. Sungguh! Malam itu sangat menyakitkan kawan! Tak lama kemudiaan komunikasi terputus sendiri. Hanya air mata yang menemaniku hingga pagi menjelang.

Ingat! Aku tak pernah dendam sedikit pun padamu. Aku bahagia. Semoga kau juga bahagia dengan lelaki pilihanmu nanti. Kau berhak dengan masa depanmu. Maafkan aku jika mengabaikan pesanmu karena aku ingin berlaku sewajarnya sebagai teman yang kau anggap kakakmu.

Di hari keberangkatanku, kau mengirimi aku pesan singkat, Kak aku ingin bercengkrama lebih lama denganmu. Mendengarkan cerita-ceritamu. Jangan jauhi aku karena suatu saat nanti aku akan merindukanmu! Aku menangisi kepulanganku yang penuh nanar ini. Ingatlah! Di setiap hariku aku akan akan selalu memikirkanmu. Akan selalu merindukanmu. Dan berharap yang terbaik selalu memihakmu. Aku sangat merindukanmu di sini! T_T.
by Oci Petrucci on Monday, September 12, 2011 at 4:54am

0 comments:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners

Labels

  • Cinta (1)
  • Harapan (2)
  • Lampiasan (5)
  • Perempuan (2)
  • Puisi (3)

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2011 (8)
    • ▼  Desember (5)
      • Akhir Ranah Kebimbanganku
      • Jaga Mereka, Tuhan..
      • Untitle
      • Kekuatan Sebuah Lagu
      • Antara Perempuan dan Menangis
    • ►  November (3)

Followers

Contents

 

© 2020 My Web Blog
Keep My C00l | Robi Andika Amsar | White-Grey