Seperti biasa, sebelum melakukan sesuatu haruslah diawali dengan "Bismillahirrahmanirrahim". Ini hanya torehan kisah nyata. Kisah yang nyata hanya bagi orang-orang yang merasa. Jadi diharapkan nanti jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atau merasa tidak terima, merasa tersindir, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mengapa harus merasa tersindir jika memang anda tidak termasuk dalam golongan itu? Jika anda merasa kaum yang benar, anggap saja ini kreasi tanganku. sama halnya seperti pernyataan-pernyataan seperti ini, "mahasiswa brengsek kerjanya cuma bisa bikin rusuh!". Buat apa pernyataan seperti itu aku pusing-pusingkan? Aku tak merasa ada dalam golongan itu masalahnya. Masa sih aku yang kerjanya ngurut-ngurut senar di kontrakan dikatakan brengsek? Tak mungkin kan?
Aku mulai berbagi kisah ya? Ini kisah konyol sekaligus awal mengapa aku bisa se-benci ini melihat
aparat-aparat itu. Waktu itu aku kelas 2 SMP, dimana hobi mengendarai sepeda motor sedang membara-membaranya. Kalian tahu jalan kecil di Bermis 2 Selong? Pasti tahulah bagi anda yang berdomisili di Selong. Aku melaju dengan kencangnya menuju Pancor. Tentunya melalui jalan kecil itu: jalan yang hanya layak digandrungi oleh pilot-pilot becak ataupun penjual Tempura keliling. Langsung saja ke ceritanya ya?
Sepulang dari Pancor, aku melalui jalan kecil tadi. Kau bayangkan saja bagaimana jalan yang sepi. Sangat tepat untuk unjuk kebolehan kan? Aku menarik gas motor sekuat-kuatnya karena semua lajur aku yang memiliki. Setiba di perempatan, mulai tampak seperti ada kumpulan-kumpulan brengsek yang mengenakan balutan hijau-hijau di badannya. Dan itu adalah sekawan polisi yang kelaparan di akhir bulan. Dia mendekati, akupun menurunkan kecepatan. Seorang dari mereka yang berbadan kekar, tinggi, tentu berkulit hitam, dan yang terakhir wajahnya yang pasti buruk. "Loh ada apa ini?", gumamku.
"Mana SIM, STNK, blalalaalaaaaaa?", kata Polisi yang mengunci ban depan motorku dengan kendaraannya yang mirip dengan kendaraan 'Kamenrider' itu. Aduh!! Ini fantasiku atau apa? Jelas-jelas aku tak bermimpi ataupun mabuk. Satu ditambah satu sudah jelas jawabannya sama dengan dua. Aku masih waras. Berapa tahun aku hidup di kota ini? Baru kali ini ada penilangan di jalaan kumuh dan kecil seperti ini. "Kok temanku tak ditangkap?", tanya kami padanya. Dia menjawab, "emang saya robot bisa nangkep dua?". Iya kau bukan robot tapi boneka babi.. Hahahaha. Itu jelas bukan jalan raya. Dan lagi pula anda aparat yang terhormat tidak menunjukkan surat penilangan kepada kami. Dan malah menyeret kami ke POS mereka (perempatan makam pahlawan) sambil berkata, "salah satu dari kalian harus ikut!". Aku jawab dengan santai, "udahlah bawa aja!". Kami berdua pulang.
Sorenya, aku menuju ke Kantor Polisi untuk menebus motor itu. Di sana sepi terpaksa menuju rumahnya. "Assalamu'alaikum!" Padahal aku tahu dia adalah Non Muslim. Tapi tak apalah. Pura-pura saja tak tahu apa-apa.
"Ada keperluan apa?", tanyanya.
"Aku mau ambil motor pak!", jawabku santai.
"Kamu harus sidang dulu kecuali kamu tebus, bisa."
"Saya kan ke sini untuk menebusnya pak!", jawabku. (Kau kira aku miskin tak punya uang? Aku tak sama sepertimu yang memeras orang di penghujung bulan, brengsek!)
Dia masuk ke dalam rumahnya mengambil sekawanan kunci. Ternyata motor itu diikat kencang dengan rantai besar dan kotor. "Udah tarik aja!", dia membentakku. Bajingan! Tanganku kotor terkena bekas-bekas oli di rantai pengikat itu. Aku diperbudak setelah memberinya segepok uang. Breng..Breng.. Kok motor ini tak bisa hidup-hidup ya? Kembali dia mendampratku, "Woi...! Bensinmu habis tu!". Aku kalang kabut. Motor ini harus kutuntun. Bukan motor yang menuntunku pulang.
Cerita lain lagi.Aku dan adikku memiliki banyak perbedaan baik itu sifat dan semuanya. Jika dia pemberani tak pernah takut kepada siapa pun, aku adalah sebaliknya. Jika badannya kekar, aku sebaliknya. Ceking dan krempeng. Kali ini kisahnya. Dari Narmada menuju Selong tak menggunakan helm. Melaju santai tanpa ada rasa bersalah. Sesampai di Masbagik, dia ditilang karena tidak menggunakan helm.
"Jangan tilang saya pak! Perjalanan masih jauh", dia memelas."Kamu nggak pake helm!", jawab aparat."Kalau begitu pinjam handphone-nya pak! Bisa?", jawab adikku.
Polisi itu memberinya pinjaman handphone. Adikku segera menelpon pamanku. "Pak, ini pamanku mau bicara!", kata adikku. Setelah selesai berbicara, polisi itu berbisik, "Hidupkan motormu di sebelah sana ya? Kamu boleh pergi". Hahahaha.. Lucu sekali kisah kali ini.
Kali ini cerita lain lagi. Ini dari pengakuan temanku. Telah terjadi penggerebekan minuman keras dan PSK. Eh,, malah mereka yang minum-minum dan bermain wanita. Temanku yang memang bersungguh-sungguh bercita-cita ingin menjadi polisi, berkorban jiwa raga menghabiskan hari dengan berlari-lari di terik panas agar bisa memenuhi syarat, malah dikalahkan dengan orang-orang berpostur pendek dan kurus seperti tuyul. Bagaimana tidak? Dia memiliki lembaran uang yang tebal, lalu diselipkan di dalam sepatu sehingga terlihat tinggi kan?
Ah! Aku capek ngetik nih..
Satu lagi ah..
Hanya aku & dia yang tahu. Tentang dia yang direbut aparat. Katanya dia lebih dewasa dari aku. "Ya sudahlah! Hati-hati ya di sana?". Dia melupakan kebaikanku. Dan setelah kata-kataku terbukti, dia masuk lagi ke dalam hidupku. Aku menerimanya kembali hingga akhirnya aku terbuang.
Wajarlah bila aku benci aparat itu. Tapi ingat! Jangan merasa tersindir jika memang anda bukan masuk di dalam golongan-golongan itu. Seperti kata-kata orang, "Anak Band identik dengan Narkoba!". Kalau menurutku aku bukan golongan seperti yang mereka ucap, mengapa harus terbakar dan harus peduli dengan kata-kata itu? Anda juga harus seperti itu menanggapi permasalahan yang seperti ini.
by Occi Petroci
Aku mulai berbagi kisah ya? Ini kisah konyol sekaligus awal mengapa aku bisa se-benci ini melihat
aparat-aparat itu. Waktu itu aku kelas 2 SMP, dimana hobi mengendarai sepeda motor sedang membara-membaranya. Kalian tahu jalan kecil di Bermis 2 Selong? Pasti tahulah bagi anda yang berdomisili di Selong. Aku melaju dengan kencangnya menuju Pancor. Tentunya melalui jalan kecil itu: jalan yang hanya layak digandrungi oleh pilot-pilot becak ataupun penjual Tempura keliling. Langsung saja ke ceritanya ya?
Sepulang dari Pancor, aku melalui jalan kecil tadi. Kau bayangkan saja bagaimana jalan yang sepi. Sangat tepat untuk unjuk kebolehan kan? Aku menarik gas motor sekuat-kuatnya karena semua lajur aku yang memiliki. Setiba di perempatan, mulai tampak seperti ada kumpulan-kumpulan brengsek yang mengenakan balutan hijau-hijau di badannya. Dan itu adalah sekawan polisi yang kelaparan di akhir bulan. Dia mendekati, akupun menurunkan kecepatan. Seorang dari mereka yang berbadan kekar, tinggi, tentu berkulit hitam, dan yang terakhir wajahnya yang pasti buruk. "Loh ada apa ini?", gumamku.
"Mana SIM, STNK, blalalaalaaaaaa?", kata Polisi yang mengunci ban depan motorku dengan kendaraannya yang mirip dengan kendaraan 'Kamenrider' itu. Aduh!! Ini fantasiku atau apa? Jelas-jelas aku tak bermimpi ataupun mabuk. Satu ditambah satu sudah jelas jawabannya sama dengan dua. Aku masih waras. Berapa tahun aku hidup di kota ini? Baru kali ini ada penilangan di jalaan kumuh dan kecil seperti ini. "Kok temanku tak ditangkap?", tanya kami padanya. Dia menjawab, "emang saya robot bisa nangkep dua?". Iya kau bukan robot tapi boneka babi.. Hahahaha. Itu jelas bukan jalan raya. Dan lagi pula anda aparat yang terhormat tidak menunjukkan surat penilangan kepada kami. Dan malah menyeret kami ke POS mereka (perempatan makam pahlawan) sambil berkata, "salah satu dari kalian harus ikut!". Aku jawab dengan santai, "udahlah bawa aja!". Kami berdua pulang.
Sorenya, aku menuju ke Kantor Polisi untuk menebus motor itu. Di sana sepi terpaksa menuju rumahnya. "Assalamu'alaikum!" Padahal aku tahu dia adalah Non Muslim. Tapi tak apalah. Pura-pura saja tak tahu apa-apa.
"Ada keperluan apa?", tanyanya.
"Aku mau ambil motor pak!", jawabku santai.
"Kamu harus sidang dulu kecuali kamu tebus, bisa."
"Saya kan ke sini untuk menebusnya pak!", jawabku. (Kau kira aku miskin tak punya uang? Aku tak sama sepertimu yang memeras orang di penghujung bulan, brengsek!)
Dia masuk ke dalam rumahnya mengambil sekawanan kunci. Ternyata motor itu diikat kencang dengan rantai besar dan kotor. "Udah tarik aja!", dia membentakku. Bajingan! Tanganku kotor terkena bekas-bekas oli di rantai pengikat itu. Aku diperbudak setelah memberinya segepok uang. Breng..Breng.. Kok motor ini tak bisa hidup-hidup ya? Kembali dia mendampratku, "Woi...! Bensinmu habis tu!". Aku kalang kabut. Motor ini harus kutuntun. Bukan motor yang menuntunku pulang.
Cerita lain lagi.Aku dan adikku memiliki banyak perbedaan baik itu sifat dan semuanya. Jika dia pemberani tak pernah takut kepada siapa pun, aku adalah sebaliknya. Jika badannya kekar, aku sebaliknya. Ceking dan krempeng. Kali ini kisahnya. Dari Narmada menuju Selong tak menggunakan helm. Melaju santai tanpa ada rasa bersalah. Sesampai di Masbagik, dia ditilang karena tidak menggunakan helm.
"Jangan tilang saya pak! Perjalanan masih jauh", dia memelas."Kamu nggak pake helm!", jawab aparat."Kalau begitu pinjam handphone-nya pak! Bisa?", jawab adikku.
Polisi itu memberinya pinjaman handphone. Adikku segera menelpon pamanku. "Pak, ini pamanku mau bicara!", kata adikku. Setelah selesai berbicara, polisi itu berbisik, "Hidupkan motormu di sebelah sana ya? Kamu boleh pergi". Hahahaha.. Lucu sekali kisah kali ini.
Kali ini cerita lain lagi. Ini dari pengakuan temanku. Telah terjadi penggerebekan minuman keras dan PSK. Eh,, malah mereka yang minum-minum dan bermain wanita. Temanku yang memang bersungguh-sungguh bercita-cita ingin menjadi polisi, berkorban jiwa raga menghabiskan hari dengan berlari-lari di terik panas agar bisa memenuhi syarat, malah dikalahkan dengan orang-orang berpostur pendek dan kurus seperti tuyul. Bagaimana tidak? Dia memiliki lembaran uang yang tebal, lalu diselipkan di dalam sepatu sehingga terlihat tinggi kan?
Ah! Aku capek ngetik nih..
Satu lagi ah..
Hanya aku & dia yang tahu. Tentang dia yang direbut aparat. Katanya dia lebih dewasa dari aku. "Ya sudahlah! Hati-hati ya di sana?". Dia melupakan kebaikanku. Dan setelah kata-kataku terbukti, dia masuk lagi ke dalam hidupku. Aku menerimanya kembali hingga akhirnya aku terbuang.
Wajarlah bila aku benci aparat itu. Tapi ingat! Jangan merasa tersindir jika memang anda bukan masuk di dalam golongan-golongan itu. Seperti kata-kata orang, "Anak Band identik dengan Narkoba!". Kalau menurutku aku bukan golongan seperti yang mereka ucap, mengapa harus terbakar dan harus peduli dengan kata-kata itu? Anda juga harus seperti itu menanggapi permasalahan yang seperti ini.
by Occi Petroci

0 comments:
Posting Komentar