Ini adalah revolusi dari puisi yang ada di binder no 3 ku. Entah mengapa aku mengubah puisi itu menjadi tulisan seperti di bawah ini? Atau mungkin hanya judulnya saja yang sama, tetapi temanya yang berbeda. Tetapi benar juga sich kalau ada beberapa baris puisi (revolusi puisi) itu yang aku bubuhkan di tulisan ini. Biar bagaimanapun juga, ini adalah tulisanku, tidak ada yang melarang aku mengubah ini semua. Silakan teman-teman baca, berikan kritikan, dan saran.
“Ibu, Engkau penjaga hidupaku di dunia fana ini. Engkau bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untuk
memberi cinta dan kasih saying kepadaku. Dengan ketulusan dan kelembutan hati, Engkau peluk tubuhku di saat itu belum diizinkan menginjak bumi.
Tiba-tiba aku berteriak, teriakan itu adalah isyarat agar aku diberikan kehangatan pelukanmu, dan tidak lama air suci itu menetes mengalir di kerongkonganku hingga akhirnya aku diam. Lalu, engkau pun tersenyum.”
Rasulullah saw. bersabda : “Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”. Itu berarti, kunci masuk syurga seorang anak adalah taat dan patuh pada ibunya termauk selalu berkata lemah lembut kepadanya. Mungkin ibu kita pernah ‘melantangkan’ suara, tapi bukan berarti itu adalah kemarahan ataupun cacian melainkan hanya sebuah nasihat untuk kita. Akn tetapi, kita sering membelokkan makna lantangan suara itu hingga akhirnya terbawa emosi dan membalas dengan kata-kata kasar, keras, bahkan kotor, dan ada juga yang memukul-menyiksa ibunya. (Astagfirullahal’adziim…Na’udzubillahimindzaalik). Kemudian, bagaimana respon ibu kepada anak seperti itu? (Masyaallah). Ibu berdoa: “Ya, Allah humma ya Allah. Tuhan Yang Maha Pengampun. Ampunilah dosa-dosa anak-anak hamba. Mereka hanya khilaf atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat.” Amiin. (Subhanallah).
“Jika ibu telah tiada nanti, jangan lupa selalu doakan ibu dengan doa yang bisa menyejukkan tempat tinggal di sana. Sayangi adik-adikmu dan hormati kakakmu. Dan suatu saat kalian akan berkeluarga seperti ibu, cari wanita yang sholehah dan baik budi pekertinya. Tetap ingat Allah swt. agar kalian tidak terpaku dengan keindahan dunia.”
Mendengar pesan ibu, mata ingin teteskan air seperti artesis mengeluarkan air suci dari dalam tanah, dan tiba-tiba tubuhku gemetar seakan-akan mau roboh. Untungnya aku adalah laki-laki, harus tegar dan tidak boleh cengeng.
Kemudian, aku pun ber-acting untuk melawan gradient arus rasa yang sebenarnya. Aku menunduk dan menganggukkan kepala sambil mencurahkan sekilas senyum, ini bertanda aku telah berjanji kepada ibu.
Saat itu aku sibuk, corat-coret kertas putih bertuliskan rumus ABC, beragam bilangan dan angka, sin-tan-cos, dan masih banyak lainnya. Bolak-balik buku juga tak henti-hentinya, keringat dingin pun tak segan-segan nongol di kulitku, padahal masih pagi dan matahari masih baru berada satu hasta dari permukaan bumi. Tapi tetap saja suhu tubuhku meningkat, bukan demam ataupun menderita kelainan fisik.
Tiba-tiba datang sosok wanita membawa cangkir menghampiriku. Wanita itu datang dari arah depan-samping meja belajar. Aku terkejut, ternyata dia adalah ibuku yang sengaja membuatkan minuman untukku agar bisa lewati kesibukan hari itu.
Tidak lama kemudian, Ibu menaruh cangkir itu di atas meja setelah memindahkan dua buah buku ke atas rak. Tangannya yang lembut berhati-hati mengaduk ulang air yang ada di cangkir. Ibu sempat melihat raut wajahku yang tampak kusam seperti orang baru selesai berolahraga. Ibu memandang penuh iba, tapi sejenak lalu tersenyum sambil berkata, “Belajar yang rajin ya, Nak?!” Senyumku pun terpancar seiring ibu hendak menjauh meninggalkan tempat itu. Dalam selang waktu singkat, ibu menyibak tirai pintu kamarku dan akhirnya keluar dengan langkah pelan, bayangannya pun lenyap seketika.
Aku masih duduk di bangku, menghadap kea rah pintu, terpaku, merenung, lalu hirup udara dan menghembuskannya. Tiba-tiba aku melihat uap mengepul, bukan asap, seperti kabut di puncak gunung atau di bukit Sembalun. Uap itu terasa hangat. Aku menoleh ke jendela, terbuka lebar. Tapi, satu molekul uap pun tak terlihat, suasana cerah dengan sinar mentari nyelonong masuk ke kamar karena dibias dan dipantulkan oleh kaca jendela tetangga sebelah.
Ckckck (geleng kepala). Aku berbalik hendak melanjutkan corat-coret kertas, alangkah terkejutnya aku. Ternyata uap yang membuata pikiranku berstatus aneh tadi berasal dari cangkir. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil airnya dengan sendok, lalu aku tiup pelan-pelan, dan mencicipinya. Airnya berasa hangat dan manis. (Dalam hati), “Sepertinya ibu sudah tahu minuman favoritku”, sambil tersenyum. “Jelas-jelas itu adalah Energen (bukan iklan) yang dicampur dengan air panas.” Wkwkwk.
Sebbenarnya, saat itu, butuh air yang cold untuk melawan suhu tubuhku yang semakin lama semakin tinggi. Tapi tak pe lah, minuman itu adalah minuman favoritku dan yang membuatnya adalah sosok wanita perkasa tiap harinya banting tulang. Aku menghargai itu dengan tulus (hhmm:D), Insyaallah. I Love You, Mom.
Engkau jaga dan lindungi aku,
seperti kelopak mawar jaga dan lindungi mahkota.
Engkau perindah hidupku,
seperti kelopak maar perindah bunga.
Engkau berikan pelukan hangat,
seperti kelopak mawar di The Zen Park Of Japan.
Mom,
How are you to day?
I miss your soul.
May Allah swt always bless you, Ameen.
***
“Ibu, Engkau penjaga hidupaku di dunia fana ini. Engkau bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untuk
memberi cinta dan kasih saying kepadaku. Dengan ketulusan dan kelembutan hati, Engkau peluk tubuhku di saat itu belum diizinkan menginjak bumi.
Tiba-tiba aku berteriak, teriakan itu adalah isyarat agar aku diberikan kehangatan pelukanmu, dan tidak lama air suci itu menetes mengalir di kerongkonganku hingga akhirnya aku diam. Lalu, engkau pun tersenyum.”
***
Ibu adalah seorang wanita yang memiliki hati tulus menyayangi anak-anaknya dari kecil hingga dewasa. Namun ibu tidak mengharapkan apapun dari anak-anaknya, kecuali hanya keselamatan dan kesuksesannya menjalani hidup masing-masing. Segala upaya ia lakukan untuk memberi bekal hidup baik material maupun spiritual, dan ia terpontang-panting mencari “DUIT” dengan tujuan hanya menghidupi anak-anaknya. “Sungguh mulia, bukan?”Rasulullah saw. bersabda : “Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”. Itu berarti, kunci masuk syurga seorang anak adalah taat dan patuh pada ibunya termauk selalu berkata lemah lembut kepadanya. Mungkin ibu kita pernah ‘melantangkan’ suara, tapi bukan berarti itu adalah kemarahan ataupun cacian melainkan hanya sebuah nasihat untuk kita. Akn tetapi, kita sering membelokkan makna lantangan suara itu hingga akhirnya terbawa emosi dan membalas dengan kata-kata kasar, keras, bahkan kotor, dan ada juga yang memukul-menyiksa ibunya. (Astagfirullahal’adziim…Na’udzubillahimindzaalik). Kemudian, bagaimana respon ibu kepada anak seperti itu? (Masyaallah). Ibu berdoa: “Ya, Allah humma ya Allah. Tuhan Yang Maha Pengampun. Ampunilah dosa-dosa anak-anak hamba. Mereka hanya khilaf atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat.” Amiin. (Subhanallah).
***
Waktu itu, ibu pernah berpesan.“Jika ibu telah tiada nanti, jangan lupa selalu doakan ibu dengan doa yang bisa menyejukkan tempat tinggal di sana. Sayangi adik-adikmu dan hormati kakakmu. Dan suatu saat kalian akan berkeluarga seperti ibu, cari wanita yang sholehah dan baik budi pekertinya. Tetap ingat Allah swt. agar kalian tidak terpaku dengan keindahan dunia.”
Mendengar pesan ibu, mata ingin teteskan air seperti artesis mengeluarkan air suci dari dalam tanah, dan tiba-tiba tubuhku gemetar seakan-akan mau roboh. Untungnya aku adalah laki-laki, harus tegar dan tidak boleh cengeng.
Kemudian, aku pun ber-acting untuk melawan gradient arus rasa yang sebenarnya. Aku menunduk dan menganggukkan kepala sambil mencurahkan sekilas senyum, ini bertanda aku telah berjanji kepada ibu.
Saat itu aku sibuk, corat-coret kertas putih bertuliskan rumus ABC, beragam bilangan dan angka, sin-tan-cos, dan masih banyak lainnya. Bolak-balik buku juga tak henti-hentinya, keringat dingin pun tak segan-segan nongol di kulitku, padahal masih pagi dan matahari masih baru berada satu hasta dari permukaan bumi. Tapi tetap saja suhu tubuhku meningkat, bukan demam ataupun menderita kelainan fisik.
Tiba-tiba datang sosok wanita membawa cangkir menghampiriku. Wanita itu datang dari arah depan-samping meja belajar. Aku terkejut, ternyata dia adalah ibuku yang sengaja membuatkan minuman untukku agar bisa lewati kesibukan hari itu.
Tidak lama kemudian, Ibu menaruh cangkir itu di atas meja setelah memindahkan dua buah buku ke atas rak. Tangannya yang lembut berhati-hati mengaduk ulang air yang ada di cangkir. Ibu sempat melihat raut wajahku yang tampak kusam seperti orang baru selesai berolahraga. Ibu memandang penuh iba, tapi sejenak lalu tersenyum sambil berkata, “Belajar yang rajin ya, Nak?!” Senyumku pun terpancar seiring ibu hendak menjauh meninggalkan tempat itu. Dalam selang waktu singkat, ibu menyibak tirai pintu kamarku dan akhirnya keluar dengan langkah pelan, bayangannya pun lenyap seketika.
Aku masih duduk di bangku, menghadap kea rah pintu, terpaku, merenung, lalu hirup udara dan menghembuskannya. Tiba-tiba aku melihat uap mengepul, bukan asap, seperti kabut di puncak gunung atau di bukit Sembalun. Uap itu terasa hangat. Aku menoleh ke jendela, terbuka lebar. Tapi, satu molekul uap pun tak terlihat, suasana cerah dengan sinar mentari nyelonong masuk ke kamar karena dibias dan dipantulkan oleh kaca jendela tetangga sebelah.
Ckckck (geleng kepala). Aku berbalik hendak melanjutkan corat-coret kertas, alangkah terkejutnya aku. Ternyata uap yang membuata pikiranku berstatus aneh tadi berasal dari cangkir. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil airnya dengan sendok, lalu aku tiup pelan-pelan, dan mencicipinya. Airnya berasa hangat dan manis. (Dalam hati), “Sepertinya ibu sudah tahu minuman favoritku”, sambil tersenyum. “Jelas-jelas itu adalah Energen (bukan iklan) yang dicampur dengan air panas.” Wkwkwk.
Sebbenarnya, saat itu, butuh air yang cold untuk melawan suhu tubuhku yang semakin lama semakin tinggi. Tapi tak pe lah, minuman itu adalah minuman favoritku dan yang membuatnya adalah sosok wanita perkasa tiap harinya banting tulang. Aku menghargai itu dengan tulus (hhmm:D), Insyaallah. I Love You, Mom.
***
Ibu,Engkau jaga dan lindungi aku,
seperti kelopak mawar jaga dan lindungi mahkota.
Engkau perindah hidupku,
seperti kelopak maar perindah bunga.
Engkau berikan pelukan hangat,
seperti kelopak mawar di The Zen Park Of Japan.
Mom,
How are you to day?
I miss your soul.
May Allah swt always bless you, Ameen.

0 comments:
Posting Komentar