Sebenarnya, aku mau buat puisi, tetapi karena pikiranku masih sulit untuk mempersempit (baca: melupakan) kenangan masa Putih Abu, sehingga tulisan di bawah ini termasuk note Putih Abu.
Alasan mengapa aku memberikan judul note ini "Percikan Harapan 2nd" (mengapa ada "2nd"?), karena note ini berupa harapanku setiap aku meninggalkan kenangan baru seperti saat aku mengarungi kisah SMP—saat itu aku menulis puisi yang berjudul Percikan Harapan—tema juga sama. Puisi yang disisipkan di bagian akhir ini adalah pusi yang aku buat setelah tampil di acara perpisahan (kalau gak salah^_^, rada2 lupa, lupa2 ingat).
Sahabat sejati, terpancar, berhamburan ke jiwa-ke jasad. Ia menerkam malam gelap di setiap canda. Ingin
aku temui ia bersamamu. Kita akan bersandar di kabar manis di sela-sela hembusan napas. Kemudian mencoba memeluk udara dingin untuk menyempurnakan kebersamaan kita, lalu membuktikan itu semua dalam canda dan tawa.
aku temui ia bersamamu. Kita akan bersandar di kabar manis di sela-sela hembusan napas. Kemudian mencoba memeluk udara dingin untuk menyempurnakan kebersamaan kita, lalu membuktikan itu semua dalam canda dan tawa.
Bercerai berai bukan keinginan setiap insan. Sehingga, kita akan berusaha untuk menghilangkannya dengan beribu-ribu manikam yang diuntai, merelakan jiwa dan raga, menyingsing lengan baju, bahkan merobek kulit sekalipun. Tapi, bagi orang melangkah di tengah lingkaran setan, itu adalah percuma.
Ketika aku ingat kebersamaan itu, dulu. Ia menghabiskan waktu dua tahun lebih atau delapan puluhan juta detik. Aku coba buka lembaran masa lalu dengan tangan kanan. Aku coba renungi dan menulis itu semua di sebuah laptop hasil pinjamanku selama menanti kesembuhan laptop kakak yang tewas akibat virus ganas. Cukup menggetarkan jiwa titipan dari Tuhan. Oh, tidak. Ternyata lebih dari cukup. Karena sekarang, ia membuka kelopak mataku, menghangatkan batinku, mengangkat bulu romaku….. Aku merasakannya. Ingin lagi seperti yang dulu.
Apakah kalian ingat? Dulu kita pergi JJ ke Benang Stukel, Sembalun, Jerman…dan masih banyak lainnya. Apakah kalian masih ingat? Dulu, sebelum Ujian Nasional kita bersama-sama membuat iklan dan film kelas yang sekarang kita kenal dengan judul “Dear Ipa 5”. Di acara perpisahan, film kita mendapat nominasi dalam kategori film ‘terbaik’, actor ‘terbaik’, editor ‘terbaik’, dan kita menampilkan tarian yang menggugah sorak-sorak dan tepuk tangan penonton. Ini adalah prestasi yang kita raih bersama dan berharap kedepannya ada yang lebih baik dari yang ‘terbaik’ itu. Kemudian, masih ada seribu kisah yang kita lewati di dalam kelas maupun di luar. Apakah kalian masih ingat kisah “Akhir Putih Abu-Abu” itu? Aku yakin, semua itu masih tersimpan di memori otak kita.
Dulu, hingga sekarang. Harapan kebersamaan kita tidak pernah pudar walau waktu menebas dengan pedang saktinya. Karena, harapan kebersamaan kita akan berusaha menjaganya setiap waktu bergulir. Tidak peduli badai menerjang dari arah mana pun. Semua itu kita anggap hanya bayangan maya yang tak mampu merampas harapan itu.
Aku berpikir sejenak untuk melampiaskan amarahku ke sebuah kertas putih, berbunyi:
“Jangan katakan sahabat sejati, jika kamu membencinya”.
“Jangan katakan sahabat sejati, jika kamu menghinanya”.
“Jangan katakan sahabat sejati, jika kamu menggunjingnya”.
“Jangan katakan sahabat sejati, jika kamu sama sekali tidak peduli padanya”.
“jangan katakan sahabat sejati, jika kamu seperti horizontal laut yang kelihatan tenang, tapi membawa maut”.
Aku larutkan waktuku untuk mengungkap itu. Kita tentu tidak ingin jika dalam persahabatan ada seperti itu. Harapan kebersamaan tidak mau sifat itu mengolesi tubuh sucinya. Ia hanya ingin di dalamnya ada kasih sayang, saling menghormati, menasihati, dan memupuk jiwa sejati. Ia ingin seperti kalimat yang pernah dilontarkan oleh guru BK kelas XI dulu, yaitu “aku tahu kamu tahu”, bukan “aku tahu kamu tidak tahu”, bukan juga “aku tidak tahu kamu tahu”. Bukan juga yang ini, ”aku tidak tahu kamu tidak tahu”.
Saat ini, kita berpisah jauh, berpencar di sana-sini. Ingin bertemu lagi, itu selalu terucap. Dan, Alhamdulillah, untung saja ada internet dan jejaring social facebook. Dunia maya ini kita manfaatkan untuk saling memberi salam, menghilangkan rasa kangen sejenak dengan menulis berbagai status. Tidak lama kemudian, dibuat lagi account baru khusus komunitas “Dear Ipa5 1st Gen.” (Arak-arak doang kanak ine, hehe, adooow, hhmm).
Bertahun-tahun lamanya nanti, kita semua akan meraih sukses, dan berkeluarga dengan orang yang kita cintai dengan ketentuan ‘Alkitabulautulmahfus’. Kita akan benar-benar berbeda jalan dan menempuh semuanya dengan hati tulus. Aku akan berusaha merelakan kepergian kalian dari harapan kebersamaan yang bertahun-tahun kita lalui bersama.
Aku berharap. Suatu saat nanti, aku ingin mengajak kalian mengikuti katulistiwa. Kita akan keliling dunia, satu kali, dua kali, atau tiga kali. Kemudian, di perjalanan kita akan mammpir di Makkah, melakukan tawap sambil bergandengan tangan mengucapkan, “Labbaik allahumma labbaik labbaik lasarikalakalabaik innalhamda wani’mata walakalalmuk laa shariikalah”. Amiin. Hhmm.
Setalah kita berlibur di dunia, rambut memutih, kulit kusut, payah, dan tak mampu berjalan lagi. Di saat itu, aku berharap lagi kita bisa bertemu-bersilaturahmi, dan aku ingin kita bersama-sama menghembuskan napas terakhir. Kemudian, aku berharap kita dikuburkan di tanah yang sama, dan di atas tanah merah itu ditancapkan nisan batu berwarna putih abu-abu, sebgai lambang “Akhir Putih Abu-Abu”.
Lagi-lagi aku berharap. Di akhirat nanti, aku ingin sebuah amplop berisi surat undangan dan kita terima dengan tangan kanan kita masing-masing. Surat undangan itu berbunyi, “Seluruh Anggota Dear Ipa 5 1st Generation beserta keluarga masing-masing untuk memasuki istana dalam syurga”. Kemudian, di dalam istana itu kita akan berbahagia selamanya, insyaallah, jika kita rajin shalat, ngaji, bakti dengan orang tua, sayangi istri-suami, menjalankan sunnah Rasulullah saw, dan menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya, maka semuanya akan terwujud. Amiin. (hehehe, hhmm, hihihi, hahaha, aku merasa senang nulis tulisan lampiasan ini, hihi).
Thanks Ipa 5
Jiwaku/ jiwamu//
Tetes air mata/ sebening embun mengalir//
Membasahi lensa pandanganmu//
Mengarah ke tubuh//
Bukan sedih//
Bukan pula kasihan//
Kau tunjukkan samudra luas//
Bukan melepas//
Bukan pula memisah//
Kau seperti deliman/
bercabang/ banyak ranting//
Tiap ujung ada buah manis//
Kau tahu itu terjdi kepada kami sepertimu//
Berpisah/
tapi tiap ujung ada kebahagiaan abadi hadiah darimu//
Perjalananmu penuh kisah//
Kau sadarkan kami//
Kau semangatkan kami//
Kau ‘ubah jadi lebih baik’//
Kau ‘jadikan ada yang tidak ada’//
Kau ‘jadikan nyata yang tidak nyata’//
Dan yang paling mulia adalah/
“Menyatukan kami dalam persahabatan sejati”//
Thanks…………. Ipa 5
Lantunan nada dari bibir manis//
Sentuhan jiwamu menjadi kenangan terindah dalam qalbu//
I’m fall in love with you//
Kami adalah engaku/
Saudara kami di jalan Allah//

0 comments:
Posting Komentar