Kenapa akhir- akhir ini aku semakin yakin dengan kepulanganku. Aku merasa selalu ingin pulang. Seperti ada sebuah pertanda akan datangnya kepulanganku. Ingin aku mengisi dengan berlindung, bertobat mendekatkan diri kepada- Mu, Tuhan.. tapi selalu saja aku jatuh lagi dijurang kenistaan. Kali ini, aku bertekad memaknai arti sebuah ungkapan hati. Aku ingin selamanya dalam peluk-Mu, Tuhan.. Aku ingin Kau jangan jauh- jauh dariku. Aku tahu Kau selalu ada di hatiku, justru aku yang malah menghindar.
Tuhan, bila suatu saat aku kembali pada- Mu. Tempatkan aku dalam pelukan kasih-Mu. Aku memang sudah berlumur dosa, tak terlihat batang hidungku. Yang Nampak hanyalah dosa. Tapi izinkan aku untuk membasuhi dosa- dosaku ini yang terlewat batas.
Aku mengakui kesalahanku. Ada sesuatu yang keliru tentang orang lain menilaiku. Mereka bilang aku seorang gadis baik. Sungguh aku malu untuk mengucapkan sebuah “Terima kasih”. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu bagaimana sikapku selama ini. Bahkan ibu bapakku, adik kakakku, keluarga besar, teman, sahabat, pacar. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Bila aku menunjukkan mukaku sebenarnya, aku sama saja seperti siluman. Bahkan kalau mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin aku tak diterima dimana pun.
Aku belum pernah mencurahkan tentang ini pada siapa pun, bahkan pada orang- orang tercinta dan yang anggap aku percaya pun aku tak berani. Aku hanya memendam saja sambil bergumam kepada Tuhan. Dan inilah pertama kalinya aku berani menuliskan hal seperti ini di jam Sembilan lewat sepuluh malam jumat tanggal 17 November 2011.
Aku merasa kecil dan memang sebenarnya aku sangat kecil. Tak ada yang istimewa. Tapi aku selalu mensyukuri apa yang Tuhan berikan padaku. Aku masih mempunyai sisi positif. Dan aku tidak lebih rendah dari sampah. Aku masih punya harga diri.
Aku menyesal dengan apa yang dulu telah ku perbuat, harusnya aku sudah mendapat hukuman dari dulu. Mungkin cermin pun enggan aku lihat.
Aku tidak pernah mau kembali ke masa dulu. Aku merasa kehidupan dulu tak sejalan dengan asa. Kecuali masa kecil saat aku masih menjadi bayi sampai umur 5 tahunan. Aku merasa menjadi seseorang yang suci tanpa dosa, tapi sekarang aku sudah berubah menjadi lumuran dosa.
Aku ingat, masa- masa duduk di bangku sekolah dasar. Aku seringa main jauh hingga ibu selalu mencari- cari hingga kelelahan. Bahkan aku sempat membuat keluarga malu karena ulahku. Dan kini keluargaku masih saja mengungkit- ngungkitnya. Dan aku sangat kecewa dengan diriku sendiri. Sangat menyesaaal………………………….
Smp, awalnya baik- baik saja aku pikir. Tapi aku mulai membohongi diriku sendiri dan orang lain. Pergaulan semakin nyaris tidak terdengar positif. Aku sering pulang sore karena bermain dengan teman- teman. Sampai- sampai orang tuaku bosan menanyakan kabarku. Tapi itulah orang tua, mereka masih saja menanyakan kabarku dengan baik, mereka ingin anaknya menjadi yang terbaik. Tapi aku malah memikirkan teman- teman.
Kemudia masa SMA, aku menjadi malas dalam berbagai hal. Malas belajar apalagi, nilai semester pertama sangat jelek dan aku tak mau melihatnya lagi untuk kedua kalinya. Sempat tidak mau pulang saat pembagian rapot kelas 1 SMA semester pertama karena tidak mau orang tuaku melihatnya. Aaahh tapi terpaksa aku memperlihatkannya, jelek sekali ekspresi Bapak saat melihat rapotku. Beda sekali dengan rapot kakakku saat itu. Padahal, masa SD dan SMP rapotku selalu bagus.
Melihat kondisi itu, bukannya aku menjadi semangat belajar. Tapi aku semakin malas belajar, hingga rapot semester 2 pun masih saja jelek. Lagi- lagi ekspresi muka semraut Bapak semakin tak mau aku melihatnya. Dengan wajah seperti itu, tidak perlu lagi kata- kata keluar. Aku tahu apa maksudnya. Aku tahu apa yang terjadi. Aku tahu apa yang ingin Bapak bicarkan padaku. Yaa pastinya Bapak kecewa denganku.
Akupun gigih tapi agak surut belajar. Kelas 2 SMA yaah lumayan lah nilaiku. Kelas 3 semakin lumayan. Tapi pada zaman SMA inilah, bisa ku bilang. Kehidupan hitamku di luar rumah. Aku tidak mau lag mengulanginya. Banyak kejadian yang semakin tidak mau aku ucapkan pada orang lain. Kecuali pada Tuhan.
Tuhan, saat ini pun aku semakin fana dan fana.
Aku ingin merubah semua itu Tuhan. Semakin Nampak bayangan itu Tuhan. Maafkan aku Tuhan.
Tuhan, aku sedang bernyanyi dalam hati. Bernyanyi lagu “Ungu- Andai Ku Tahu”.
Andaiku tahu, kapan tiba ajalku.
Ku akan memohon, Tuhan tolong panjangkan umurku.
Andaiku tahu, malaikat-Mu kan menjemputku.
Izinkan aku, mengucap kata tobat pada-Mu.
Andaiku tahu, Tuhan..
Tuhan, aku hanya ingin Ibu Ayi Wasitoh, Bapak Hidayat Santosa, Teh Raisa Altingia, De Patria santosa menjadi penerang dalam jiwaku, dalam hatiku.
Tuhan, merekalah sanubari dalam hidupku. Citra diri bagi hidupku. Nafas bagi setiap hembusan anginku. Terutama orang tuaku, yang selama ini aku selalu membentak mereka, membohongi mereka, memalukan mereka. Mereka orang tua yang sabar, aku sungguh tak pantas menjadi anak mereka. Aku malu pada mereka, mereka sangat mulia sedangkan aku hanyalah pecundang di zaman ini. Aku ingin mencium kening dan pipi mereka, berlutut pada mereka. Aku ingin mengakui kesalahanku dihadapan mereka. Aku ingin memeluk mereka sangat erat melebihi kekuatanku. Aku ingin pulang di pelukan hangat mereka..
Merekalah semangatku,
Merekalah impianku,
Merekalah malaikatku,
Merekalah insanku,
Merekalah kasihku,
Mekekalah sayangku,
Merekalah cintaku,
Merekalah segalanya..
I love you Bu, Pak….
Jaga mereka Tuhan,
Jaga pula adikku yang sangat aku sayangi, dia adik satu- satunya yang tertampan, yang selalu senang aku ajak curhat. Dia teman rumahku kala aku sedih.
Jaga pula kakakku yang sangat aku sayangi, dia kakak satu- satunya yang tercantik, yang selalu siap membuatku menghadapi jalan yang benar walaupun secara tidak langsung dia ungkapkan.
Jaga mereka Tuhan, jaga juga saudara- saudaraku.. Merekalah saudaraku.
Jaga juga teman- temanku yang selalu hadir dalam hidupku. Dari kecil hingga sekarang aku masih mempunyai teman. Jaga mereka Tuhan..
Jaga juga pacarku, dia telah memberikan banyak arti kehidupan yang luar biasa untukku.. Jaga dia Tuhan… dia hadir dalam hidupku untuk memberitahukan kehidupan yang sebenarnya..
Tolong jaga mereka, Tuhan….
I love you all…
Tuhan, bila suatu saat aku kembali pada- Mu. Tempatkan aku dalam pelukan kasih-Mu. Aku memang sudah berlumur dosa, tak terlihat batang hidungku. Yang Nampak hanyalah dosa. Tapi izinkan aku untuk membasuhi dosa- dosaku ini yang terlewat batas.
Aku mengakui kesalahanku. Ada sesuatu yang keliru tentang orang lain menilaiku. Mereka bilang aku seorang gadis baik. Sungguh aku malu untuk mengucapkan sebuah “Terima kasih”. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tahu bagaimana sikapku selama ini. Bahkan ibu bapakku, adik kakakku, keluarga besar, teman, sahabat, pacar. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Bila aku menunjukkan mukaku sebenarnya, aku sama saja seperti siluman. Bahkan kalau mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin aku tak diterima dimana pun.
Aku belum pernah mencurahkan tentang ini pada siapa pun, bahkan pada orang- orang tercinta dan yang anggap aku percaya pun aku tak berani. Aku hanya memendam saja sambil bergumam kepada Tuhan. Dan inilah pertama kalinya aku berani menuliskan hal seperti ini di jam Sembilan lewat sepuluh malam jumat tanggal 17 November 2011.
Aku merasa kecil dan memang sebenarnya aku sangat kecil. Tak ada yang istimewa. Tapi aku selalu mensyukuri apa yang Tuhan berikan padaku. Aku masih mempunyai sisi positif. Dan aku tidak lebih rendah dari sampah. Aku masih punya harga diri.
Aku menyesal dengan apa yang dulu telah ku perbuat, harusnya aku sudah mendapat hukuman dari dulu. Mungkin cermin pun enggan aku lihat.
Aku tidak pernah mau kembali ke masa dulu. Aku merasa kehidupan dulu tak sejalan dengan asa. Kecuali masa kecil saat aku masih menjadi bayi sampai umur 5 tahunan. Aku merasa menjadi seseorang yang suci tanpa dosa, tapi sekarang aku sudah berubah menjadi lumuran dosa.
Aku ingat, masa- masa duduk di bangku sekolah dasar. Aku seringa main jauh hingga ibu selalu mencari- cari hingga kelelahan. Bahkan aku sempat membuat keluarga malu karena ulahku. Dan kini keluargaku masih saja mengungkit- ngungkitnya. Dan aku sangat kecewa dengan diriku sendiri. Sangat menyesaaal………………………….
Smp, awalnya baik- baik saja aku pikir. Tapi aku mulai membohongi diriku sendiri dan orang lain. Pergaulan semakin nyaris tidak terdengar positif. Aku sering pulang sore karena bermain dengan teman- teman. Sampai- sampai orang tuaku bosan menanyakan kabarku. Tapi itulah orang tua, mereka masih saja menanyakan kabarku dengan baik, mereka ingin anaknya menjadi yang terbaik. Tapi aku malah memikirkan teman- teman.
Kemudia masa SMA, aku menjadi malas dalam berbagai hal. Malas belajar apalagi, nilai semester pertama sangat jelek dan aku tak mau melihatnya lagi untuk kedua kalinya. Sempat tidak mau pulang saat pembagian rapot kelas 1 SMA semester pertama karena tidak mau orang tuaku melihatnya. Aaahh tapi terpaksa aku memperlihatkannya, jelek sekali ekspresi Bapak saat melihat rapotku. Beda sekali dengan rapot kakakku saat itu. Padahal, masa SD dan SMP rapotku selalu bagus.
Melihat kondisi itu, bukannya aku menjadi semangat belajar. Tapi aku semakin malas belajar, hingga rapot semester 2 pun masih saja jelek. Lagi- lagi ekspresi muka semraut Bapak semakin tak mau aku melihatnya. Dengan wajah seperti itu, tidak perlu lagi kata- kata keluar. Aku tahu apa maksudnya. Aku tahu apa yang terjadi. Aku tahu apa yang ingin Bapak bicarkan padaku. Yaa pastinya Bapak kecewa denganku.
Akupun gigih tapi agak surut belajar. Kelas 2 SMA yaah lumayan lah nilaiku. Kelas 3 semakin lumayan. Tapi pada zaman SMA inilah, bisa ku bilang. Kehidupan hitamku di luar rumah. Aku tidak mau lag mengulanginya. Banyak kejadian yang semakin tidak mau aku ucapkan pada orang lain. Kecuali pada Tuhan.
Tuhan, saat ini pun aku semakin fana dan fana.
Aku ingin merubah semua itu Tuhan. Semakin Nampak bayangan itu Tuhan. Maafkan aku Tuhan.
Tuhan, aku sedang bernyanyi dalam hati. Bernyanyi lagu “Ungu- Andai Ku Tahu”.
Andaiku tahu, kapan tiba ajalku.
Ku akan memohon, Tuhan tolong panjangkan umurku.
Andaiku tahu, malaikat-Mu kan menjemputku.
Izinkan aku, mengucap kata tobat pada-Mu.
Andaiku tahu, Tuhan..
Tuhan, aku hanya ingin Ibu Ayi Wasitoh, Bapak Hidayat Santosa, Teh Raisa Altingia, De Patria santosa menjadi penerang dalam jiwaku, dalam hatiku.
Tuhan, merekalah sanubari dalam hidupku. Citra diri bagi hidupku. Nafas bagi setiap hembusan anginku. Terutama orang tuaku, yang selama ini aku selalu membentak mereka, membohongi mereka, memalukan mereka. Mereka orang tua yang sabar, aku sungguh tak pantas menjadi anak mereka. Aku malu pada mereka, mereka sangat mulia sedangkan aku hanyalah pecundang di zaman ini. Aku ingin mencium kening dan pipi mereka, berlutut pada mereka. Aku ingin mengakui kesalahanku dihadapan mereka. Aku ingin memeluk mereka sangat erat melebihi kekuatanku. Aku ingin pulang di pelukan hangat mereka..
Merekalah semangatku,
Merekalah impianku,
Merekalah malaikatku,
Merekalah insanku,
Merekalah kasihku,
Mekekalah sayangku,
Merekalah cintaku,
Merekalah segalanya..
I love you Bu, Pak….
Jaga mereka Tuhan,
Jaga pula adikku yang sangat aku sayangi, dia adik satu- satunya yang tertampan, yang selalu senang aku ajak curhat. Dia teman rumahku kala aku sedih.
Jaga pula kakakku yang sangat aku sayangi, dia kakak satu- satunya yang tercantik, yang selalu siap membuatku menghadapi jalan yang benar walaupun secara tidak langsung dia ungkapkan.
Jaga mereka Tuhan, jaga juga saudara- saudaraku.. Merekalah saudaraku.
Jaga juga teman- temanku yang selalu hadir dalam hidupku. Dari kecil hingga sekarang aku masih mempunyai teman. Jaga mereka Tuhan..
Jaga juga pacarku, dia telah memberikan banyak arti kehidupan yang luar biasa untukku.. Jaga dia Tuhan… dia hadir dalam hidupku untuk memberitahukan kehidupan yang sebenarnya..
Tolong jaga mereka, Tuhan….
I love you all…
by Anis Jatisunda on Sunday, November 20, 2011 at 7:04pm

0 comments:
Posting Komentar