skip to main | skip to sidebar

Our Notes are Our Life

Yesterday is our story to learned by us

  • Information System
  • C00l_robi
  • Home
  • Gold words
  • Download

12/03/2011

Kekuatan Sebuah Lagu

posted by Robiandika Sayank Ipa5 at 02.31 Labels: Lampiasan
21 Oktober 2011....
Pernahkah kalian terlarut pada sebuah lagu? Pernahkah kalian menggilai sebuah lagu hingga kalian tiada henti memutar lagu tersebut berulang-ulang? Andai lagu adalah makhluk hidup, mungkin lagu itu akan muak dengan kalian yang tiada henti memaksanya melantunkan seruan-seruan tentang pahitnya hidupmu. Mungkin lagu itu akan berkata, “Ah brengsek! Tenggorokanku kering! Aku butuh minuman soda dingin”. Tapi kita tidak mengabaikannya kan? Karena lagu adalah sebuah media untuk saling MENYAKITI. Terlebih lagi jika lagu itu adalah pemberian dari orang yang sangat kalian sayangi.
Hari itu adalah hari jum’at. Hari yang terasa singkat namun bisa terasa sangat panjang jika digunakan untuk mengenang segala kebodohan, kenangan pahit hidup, memikirkan tentang sebuah ketidakpastian, mimpi-
mimpi semu, dan hal yang sia-sia lainnya. Padahal ada hal yang lebih penting untuk kalian lakukan.
******************
Kita bercerita mundur.
27 September 2011....
Aku benar-benar secara totalitas melupakanmu. Aku bahagia dengan keadaan waktu itu. Aku merasa menang bisa mengabulkan permintaanmu, yang waktu itu memintaku pergi meninggalkanmu. Itu tanpa alasan. Itu amatlah menjengkelkan. Dan aku hanya bisa terus berprasangka. Aku meminta kejujuran. Katakanlah sebenarnya apa yang telah terjadi. Apakah kau telah dimiliki pria yang sering kau sebut? Kau selalu menjawab bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa di antara kami. Padahal itu permintaan yang mudah hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”. Dengan begitu, aku bisa menjaga sikapku padamu jika memang kau telah dimiliki.
                Entahlah apa yang menggerakkanku malam itu ingin membuka dunia maya. Aku membuka profilmu kawan. Hanya bertuliskan “berpacaran”. Tidak ada penjelasan berpacaran dengan siapa. Aku anggap itu biasa saja karena semua orang bisa melakukannya. Aku pun bisa membuat profilku menjadi “menikah telah memiliki dua orang cucu”.
28 September 2011....
                Aku mencurigai lelaki yang sering mengirim wall aneh di facebook-mu. Tiba-tiba aku meng-klik-nya, ada pernyataan aneh di sana “is in relationship with namamu”. Kuakui aku terluka. Malam itu hidupku terasa miris. Sungguh sandiwara yang sangat rapi. Kau menyembunyikan semuanya sementara aku meminta kejelasan agar aku tidak bimbang lagi.
“Sungguh sandiwara yang rapi. Ini yang kuminta dari dulu, dari mulutmu. Dengan jujur, semua bisa terselesaikan. Kenapa harus aku yang mengetahuinya sendiri?”
Jawabanmu singkat! “Baguslah kalau sudah tahu! Maaf!”. Kau pergi seolah tak ingat apa-apa lagi tentang apa yang telah terjadi. Aku benar-benar kecewa malam itu.
“Jangan pikir gara-gara insiden ini aku marah padamu. Aku masih temanmu yang masih peduli denganmu. Jangan sungkan atau malu. Hati-hati di sana! Pacaran sewajarnya jangan berlebihan! Aku hanya bisa berdo’a. Semoga kamu bahagia!”.
                Aku selalu memberi kata motivasi untukmu walau sekarang aku merasa tak dianggap apa-apa lagi. Hanya itu yang bisa kulakukan. Mendo’akanmu agar kau baik-baik saja. Masuk lagi terlalu dalam di hidupmu sudah tak mungkin. Kau telah direnggut lelaki lain. Lalu aku dan dirimu menghilang. Berjalan sewajarnya karena kita telah memiliki jalan yang berbeda. Aku bahagia bisa benar-benar melepasmu.
30 Oktober 2011....
                Aku gelisah. Aku gundah. Mungkin risau yang amatlah dalam. Baru kali ini aku merasakannya. Kau telah dimiliki namun kenapa malam itu wajahmu terlintas tiba-tiba di saat semua telah terkubur indah di hatiku. Firasatku buruk! Kau mengadu padaku kau telah disakiti olehnya. Harusnya itu masalahmu berdua. Harus diselesaikan berdua. Cari jalan tengahnya berdua dengan lelaki brengsek itu. Bukannya mengadu padaku dan meminta maaf. Bukannya aku kakatakan sebelumnya jika hubungan kalian tidak baik? Kapan firasatku meleset? Ayo jawab! Kau mengakuinya dan meminta maaf padaku. Karena aku masih peduli, aku maafkan. Dan kamu masuk lagi dalam kehidupanku dengan mimpi-mimpi indah yang kau sodorkan padaku. Walau aku mendesakmu, kau tak ‘kan pernah ingin bercerita masalahmu. Mungkin itu terlalu berat untuk diceritakan. Aku mengerti. Aku tak berani berprasangka buruk. Sebaiknya aku pertahankan rasa nyamanmu padaku. Setidaknya aku masih merasa peduli denganmu.
1 September 2011....
                Malam itu kami berbicara panjang lebar. Aku masih menanyakan apa yang telah terjadi padanya hingga dia merasa benar-benar berdosa dengan semuanya. Tetap saja dia tak bergeming sedikit pun. Aku minta pertanggungjawabannya. Kenapa masuk lagi dalam hidupku jika hanya membuat waktuku terbuang percuma? Jangan buat aku terjatuh lagi dalam lubang yang sama!
                Aku mencoba pahami. Mungkin berbicara langsung padaku melalui telpon, agak malu atau agak tak tega mengatakannya padaku. Akhirnya komunikasi via sms walaupun lama tapi juga menguntungkan. Kau jelaskan semuanya walau masalah yang utama tak diungkit. Aku sedikit tenang. Baru kali ini kau membuatku setenang ini. Jika kau telah mengakui hubungan kalian tidak bermanfaat, dan kau mengatakan lelaki itu brengsek, lalu apalagi alasanmu untuk tetap bertahan? Malam itu aku membentak. “Kamu bodoh! Sampai mati aku membenci P****i. Bodohnya lagi kamu bertahan pada kebodohanmu! Sekali lagi! Pacarmu brengsek! Sampaikan salamku padanya! FUCK!”.
NB: aku tahu masalahnya hanya saja tak mungkin kuceritakan.
                Dia memintaku jangan terlalu khawatir. Tak ada gunanya aku seperti ini. Aku mengatakan padanya agar jangan berbelit-belit. Aku sudah peduli denganmu tapi kenapa tak dihargai sedikit pun? Jangan lagi menjadi sampah di hatiku!
“Berarti kakak nggak percaya lagi sama aku? Ya sudahlah..”, sms-nya singkat.
“Ya sudah! Terserah! Aku nggak peduli lagi!”, jawabku juga singkat.
“Karena aku nggak mau kakak ikut-ikutan sedih cuma gara-gara aku! Aku sengaja menyetujui hubungan status berpacaran agar kakak benar-benar pergi dan melupakanku! Ternyata aku salah! Bagaimana pun aku berbuat kakak tetap yakin dengan perasaan kakak! Itu yang membuat hatiku tersentuh! Puas? Yang penting aku sudah jujur. Aku bingung dengan perasaanku ini”, jawabnya.
“Tenanglah! Tak ada paksaan sedikit pun. Aku tak mau dikasihani jika keadaan sudah seperti ini! Aku berjiwa besar! Selalu bersabar dan mengalah selama ini! Apa pun yang terjadi itulah yang terbaik seperti apa yang telah kau katakan sebelumnya! Aku sudah lakukan itu! Aku mengharapkan yang terbaik walau itu adalah bukan aku yang kau pilih! Berdo’alah untuk tidak mengiba padaku seperti aku yang telah bisa melupakanmu!”, jawabku dengan teramat haru.
2 September 2001....
                Ini kali pertama kita akrab kembali setelah kira-kira sepekan lamanya kau mencampakkanku gara-gara telah dimiliki pria lain. Kita sangat akrab dan bahkan sudah mulai agak mendalami. Hingga aku berani putuskan akan melakukan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku mengatakan padanya, aku ingin membicarakan sesuatu itu lagi. Sungguh aku tak percaya dia mendesakku agar mengatakan itu secepatnya. Lalu apa yang harus kulakukan sementara dia masih berhubungan dengan lelaki itu? Maaf aku tak bisa secepat ini! Aku takut terjatuh di sumur yang sama!
                Aku hanya bisa menigirimi kata-kata motivasi. Tak lebih tak kurang. Aku tak ingin mengikatnya dengan status pacaran. Aku takut karena aku bimbang. Dia merasa nyaman dan selalu berterima kasih karena selama ini aku terus memberikan perhatianku untuknya. Bahkan juga, itu kali pertama kau berani mengatakan “Kakakku sayang” setelah sekian lama kita berhubungan semu, kata-kata itu tak pernah ada. Dan itu ada untuk sekarang ini.
9 September 2011....
                Tanggal itu hubungan kalian berakhir. Aku bahagia. Bahagia bukan berarti kau akan memilihku. Masih banyak juga lelaki yang lebih baik dariku. Bertepatan juga dengan ini, kau mengirim sesuatu di e-mail-ku. Ternyata isinya sebuah lagu, soundtrack drama korea yang dibumbui kata-kata indahmu: “Dengerin lagunya! Telpon aku! Peluk yang erat! Aku senang.. Sungguh! Kata-katamu mulai menantangku lagi. Ini indah!
                Tapi aku tidak bodoh tak secepat itu bertindak. Masih banyak lagi sumur yang terbuat dari emas namun dalamnya berpuluh-puluh meter. Itu siap menantiku. Aku tahu sifatmu dari dulu yang teramat jahat. Tapi kami tetap berkomunikasi.
21 September 2011....
                Saat aku mulai membuka lembaran baru dan akan memberikan cintaku kepada wanita lain, aku masih berpikir apakah cintaku akan sama seperti rasa cintaku padamu selama ini? Cinta yang menggantung tak pernah bertepi. Aku menelponnya kembali.
“Apa yang kau inginkan dariku? Cintaku tertutup kepada wanita lain. Itu semua karenamu! Apa kita harus mencoba dulu? Apa tak ada kesempatan untukku seperti lelaki-lelaki lain yang mungkin juga tersakiti sama sepertiku? Jangan dipaksa! Kalau tak merasa nyaman, kita akhiri saja!”, tanyaku agak tegas. “Sudah kukatakan tak bisa. Tak mungkin terjadi. Aku sedang didekati lelaki lain!”, jawabnya enteng sekali. Seperti tak berpikir dulu dengan perkataannya. “Apa karena aku jauh? Atau apakah jika seandainya aku sedang berada di dekatmu kau tetap menolak cintaku?”, balasku. “Tetap nggak bisa. Selamanya nggak bisa. Maaf! Cobalah dengan yang lain!”, jawabnya enteng lagi. “Lalu apa maksud kata-kata manismu pada lagu yang kau berikan?”, aku sedikit emosi. Dia hanya menjawab singkat, “Itu kan hanya tulisan!”. Sudahlah! Aku sedang berbicara dengan orang bodoh. Aku benci orang dungu! Tak ada pendirian dalam hidupnya. Plin-plan, gegabah, pura-pura bodoh, tak pernah ada penyesalan, dan selalu mengulangi kesalahan-kesalahan. Kesalahan yang hanya sekali masih bisa diampuni. Akan tetapi kesalahan yang berulang-ulang dilakukan tak bisa dimaafkan.
**********
                Malam hari itu, aku ingat itu jam 7. Aku sedang ujian gitar di kampus. Anak-anak yang lain mendahului. Aku belum siap. Aku  masih kalut. Aku memelih pentas di akhir saja.
                Giliranku tiba. Aku gemetar. Aku seperti kehilangan konsentrasi. Aku harus memainkan 3 etudes yang nada-nadanya tak simetris: nada klasik yang menjengkelkan. Pada lagu pertama aku kacau. Sebenarnya sudah  kumainkan sempurna. Hanya saja ada pengulangan yang meminta agar aku mengulangi beberapa birama lagi. Hampir selesai, aku panik. Aku bingung telah sampai ke birama keberapa. Sepertinya aku pernah mendengar nada-nada ini tadi. Ternyata aku hanya berputar-putar dan melompat ke lain birama. Konsentrasiku hilang dan memilih menghentikan permainanku. Dosen menyuruhku memainkan etudes berikutnya dan alhamdulillah lancar. Astaghfirullah! Seburuk inikah dampaknya dalam hidupku?
22 September 2011....
                Itu tengah malam. Saat itu aku mebuka laptop-ku, tiba-tiba terdengar lagu pemberianmu secara tak sengaja. Itu bersumber dari kamar temanku. Brengsek! Temanku menganggap lagu itu hanya sebagai media untuk menuntunnya menuju dunia mimpinya. Dia bisa pulas menikmati lagu itu. Sementara aku mendengarnya hanya untuk menyakiti diriku sendiri. Akhirnya aku keluar kira-kira jam 1 dini hari untuk mencari makan karena lapar. Tetap saja lagu itu masih melantun sampai aku kembali lagi ke kontrakanku. Akhirnya aku menyusup ke kamar temanku dan memabunuh lagu itu secara paksa. Lalu aku menaiki tangga karena aku ingin mendirikan salat. Pikirku di kamar atas akan lebih damai dan tenteram. Ternyata salah besar. Temanku yang lain memutar lagu yang bertema sama. Itu lagu yang sering kunyanyikan ketika sedikit mengenangmu.
Keesokannya, aku berangkat ingin mengikuti acara malam keakraban. Semuanya adalah anak-anak lombok. Berharap dengan keramaian, kecewaku mereda. Dan malah sebaliknya, aku merasa sendiri dalam hiruk-pikuk mereka yang seolah tak pernah memiliki masalah dalam hidupnya. Awalnya aku cukup menikmati acara itu. Aku bisa sedikit menghentakkan kaki dengan nada-nada riang yang dimainkan panitia. Kebahagiaan tak memihak lama. Lagu-lagu berikutnya adalah lagu tentang jeritan-jeritan cinta. Aku semakin ringkih. Memuakkan! Aku ingin pulang. Namun apa daya. Kami sangat jauh dari pusat kota. Lagi pula itu tengah malam dan berada di lokasi cukup mencekam: lereng Gunung Merapi.
                “Ayo sumbangkan beberapa lagu! Pertanggungjawabkan kaos yang sedang kau gunakan!”, kata temanku mencemooh. Malam itu kaosku bertuliskan “DREAM THEATER”: baju yang baru saja kuperoleh dari dunia maya. ”Maafkan kawan! Aku sedang tak bermimpi memainkan sebuah nada. Apalagi beberapa nada”. Jawabku dalam hati.
23 September 2011....
                Kecewaku terlalu dalam. Ini bukan lagi tentang mimpi ingin memilikimu. Aku akan memaki diriku sendiri kalau aku sampai terjerat lagi di perangkapmu. Harapanku sederhana saja. Mulailah berpikir! Jangan bermain api jika tak ingin terbakar! Bermain-main dengan hidup, tentu juga hasilnya tak ‘kan bisa menjadi manis mendera. Memang dalam hidup, kita inginkan kebahagiaan. Dalam hidup, kita inginkan harapan terwujud. Semua itu adalah mimpi setiap manusia yang harapannya tiada lain tiada bukan mereka akan mampu memeluk mimpi itu. Tapi apakah harus menyakiti orang lain dulu? Apakah pelajaran-pelajaran hidup yang dulu tidak kau tanamkan dan tidak kau pedomani untuk menjalani kehidupan berikutnya? Itu yang kuinginkan. Jangan permainkan lelaki. Jangan lakukan suatu hubungan jika memang dilandasi gurauan yang ujungnya akan merana pilu. Seperti yang kutahu kisahmu selalu singkat. Ya mungkin karena sikapmu memang seperti ini pada setiap lelaki. Kau pikir aku tak tahu apa-apa tentang kehidupanmu? Aku tahu kisah-kisahmu kawan! Karena aku memang benar-benar peduli dan merasa kau harus aku rangkul. Sekarang tak ‘kan lagi aku berharap lebih. Sudah tak mungkin lagi seperti yang kau bilang. Aku hanya ingin menguji konsistensimu, apakah tulisan-tulisan indahmu itu sesuai dengan perbuatanmu.
                Tiadakah kau pernah berpikir dengan mereka-mereka yang pernah kau perlakukan sama? Tidakkah kau pernah berpikir perasaan mereka yang hancur lebur, yang bisa saja teramat sangat akan membencimu? Pernahkah kau merenungi bahwa aku adalah orang yang selalu sabar dan larut dalam buaianmu? Ataukah selama ini kau menganggapku bodoh, bisa dipermainkan begitu saja? Mungkin iya. Harusnya aku sadari sedari dulu. Aku ingin dihargai setelah memberimu banyak celah untuk berubah. Lalu apakah dengan lagu yang kau berikan padaku itu akan membuatmu kukenang selamanya? Apa yang ingin kukenang dari sebuah kemunafikan? Lalu kau berkata, “Hapus saja lagunya. Gampangkan?”. Itu kau katakan dengan gampang padaku mungkin sambil tersenyum di sana. Itu sama halnya memintaku agar tidak membenci orang yang meludahi wajahku. Dan setelah diludahi, aku diminta membersihkan ludah itu sendiri di wajahku. Lalu apa aku akan melupakan orang yang meludahiku dan akan tidak membencinya? Itu MIMPI bagimu!
                Bersikaplah dewasa. Aku tak ingin jika suatu saat kau membaca goresan singkat ini, kau semakin angkuh dan merasa kau benar-benar waaaaaahhhhh.... Merasa segalanya dan merasa telah berhasil memperbudakku. Aku ingin kau menyadari dan mengakuinya. Aku ingin kau bisa menerimanya jika kau berpikir kau benar-benar salah. Jika selama ini aku yang selalu melunak, mengapa untuk sekali ini saja kau tak pernah bermimpi untuk melakukannya?
                Suatu saat kau akan mengalami hal yang sama sepertiku. Kau akan merintih dan tak tahu kepada siapa kau akan berbagi. Kau akan dihantui rasa bersalahmu jika memang kau benar-benar sadari itu. Hidup itu seperti air dan api. Jika ada salah satu yang terbakar, salah satunya lagi akan memadamkannya. Aku selalu menyiramimu dengan kasih sayangku. Sesekali siramilah aku setidaknya dengan kata maafmu yang benar-benar itu adalah permintaan maaf: kata-kata maaf yang yang dilandasi alasan-alasan bahwa itu adalah penyesalanmu. Aku ingin kau buang dan aku bisa pergi dengan TERHORMAT di saat aku mulai menapaki hidup baruku ini. Aku bisa saja mencintai orang lain. Tapi untuk kenangan pahit ini, aku berjanji tak ‘kan pernah melupakannya. Terima kasih selama ini kau adalah sebaik-baik guru dalam mengajari ilmu kehidupan. Terima kasih selama ini telah menjadi temanku yang paling jahat. Terima kasih atas lagunya yang selalu memaksaku mengingat kebodohan-kebodohan itu semua. Ini semua harus berakhir. Aku lebih mencintai diriku sendiri daripada buang-buang waktu mencintai orang yang baru mengenal dunia. Kuakui aku juga humoris, selalu ugal-ugalan dengan teman-teman. Tapi asal kau tahu saja dalam hal seperti ini aku selalu bersungguh-sungguh. Kau tidak akan menemukan lelaki konyol sepertiku lagi. Kau mungkin tak ‘kan menemukan lelaki yang gila-gilaan, segila ini mencintaimu. Maaf aku harus berubah. Rasakanlah kepedihanku. Jangan mendendam padaku! Aku hanya berharap agar hukum kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. STOP BEING CHILDISH!

BANYAKLAH BERGAUL DENGAN ORANG YANG LEBIH DEWASA! BERUNTUNG AKU BERTEMAN DENGAN MAS ARIEF & MBAK VIKA YANG TELAH BANYAK MENGAJARIKU TENTANG KEDEWASAAN SELAMA INI!

by Oci Petrucci on Sunday, October 23, 2011 at 11:09pm

0 comments:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners

Labels

  • Cinta (1)
  • Harapan (2)
  • Lampiasan (5)
  • Perempuan (2)
  • Puisi (3)

Blog Archive

  • ►  2013 (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2011 (8)
    • ▼  Desember (5)
      • Akhir Ranah Kebimbanganku
      • Jaga Mereka, Tuhan..
      • Untitle
      • Kekuatan Sebuah Lagu
      • Antara Perempuan dan Menangis
    • ►  November (3)

Followers

Contents

 

© 2020 My Web Blog
Keep My C00l | Robi Andika Amsar | White-Grey